FILOSOFI SEMAR
Filosofi Semar dapat dikaji baik dari segi fisik maupun dari segi 0 kedudukannya dalam cerita pewayangan. Dari segi fisik, dia bersosok lelaki, tetapi dia memiliki payudara, yang demikian itu menjadi simbol dari pria dan wanita. Wajahnya terlihat keriput, tua, tetapi dia memiliki kuncung hingga membuatnya terlihat seperti anak-anak. Orang tua — yang merupakan ciri kematangan — dan anak-anak — yang menyimbolkan pikiran jernih — menjadi simbol dari tua dan muda.
Semar sebagai dewa memiliki kekuatan- kekuatan yang tidak akan pernah terkalahkan oleh siapapun yang berani menentangnya : tidak pernah lapar, mengantuk, jatuh cinta, sedih, capai, sakit, kepanasan, dan kedinginan. Artinya, dia tidak pernah terpengaruh oleh kekuatan-kekuatan dari luar dirinya.
Dia hanya fokus pada peningkatan pribadinya hingga apapun yang mungkin mengganggunya dapat dikendalikan di bawah kemudi kesadaran nya. Kekuatan-kekuatan ini disimbolkan pada fisik Semar dengan kuncung yang berjumlah delapan.
Pada bentuk tangannya juga terlihat bahwa tangan yang satu menghadap ke atas dan tangan yang lain menghadap ke bawah sebagai simbol bahwa rezeki yang datang kepada kita agar dimintakan kepada yang ada di atas, tetapi ketika sudah mendapatkannya jangan lupa untuk selalu berbagi kepada yang ada di bawah kita. Berbagi kepada siapapun, dari strata sosial apa pun, dari warna kulit apa pun, yang berkulit putih, coklat, maupun hitam — yang merupakan warna kulit Semar.
Dalam sunggingan memang Semar berwarna kulit hitam, tetapi hal itu bukan tanpa makna. Warna kulit hitam pada Semar menyimbolkan Bumi. Bumi dengan sikap ikhlasnya, andhap asor, rendah hati, dan tidak sombong disimbolkan dengan warna kulit hitam pada Semar. Bumi (tanah) mengetahui bahwa air, api, angin, hewan, tumbuhan, kebaikan, dan kejahatan sekalipun hidup di dalamnya, tetapi hal tersebut tidak menjadikannya sombong, tinggi hati. Tanah yang selalu diinjak-injak ikhlas menerima itu semua demi makmurnya kehidupan di Bumi.
“Ojo dumeh, eling, lan waspada”
Selain filosofi fisiknya, dari segi kedudukan, Semar merupakan dewa yang kamanungsan. Semar merupakan dewa — memilki sifat-sifat ketuhanan — yang memanusia, yang selalu bersikap seperti sejatinya manusia (andhap asor, rendah hati, dermawan, bijaksana, dll.). Dewa yang kamanungsan itu dimanifestasikan dengan menjadi ponokawan — bukan punakawan. Jika pono berarti jernih atau memiliki visi yang jelas dan kawan berarti teman, maka ponokawan berarti teman yang berpikiran jernih dan memiliki visi yang jelas.
Semar mampu menjadi teman, kerabat, rekan, atau partner yang senantiasa objektif, kritis, terbuka, dan bervisi jelas terhadap setiap permasalahan yang menimpa temannya. Dapat juga diinterpretasikan bahwa Semar merupakan pemimpin yang merakyat.
Antitesis dari Semar adalah Krisna. Krisna merupakan rakyat yang mendewa. Dia lahir dari seorang dewa. Yang demikian ini dapat diinterpretasikan bahwa Krisna merupakan rakyat yang bergaya seperti pemimpin. Tetapi terlepas dari itu semua, kita dapat mengambil hikmah dan kebijaksanaan dari Krisna sekalipun.
Dalam setiap pagelaran wayang yang menampilkan tokoh Semar, sang dalang selalu mengucapkan kalimat berupa sajak dari Semar : Mbegegeg, ugeg-ugeg, mel-mel, sak dulito, langgeng
Mbegegeg berarti “diam”. Ugeg-ugeg berarti “bergerak”. Mel-mel secara harfiah berarti “makan” serta secara makna berarti “mencari”. Sak dulito berarti “walaupun sedikit”. Kemudian langgeng berarti “kekal” atau “abadi”. Maka sajak tersebut bermakna bahwa daripada kita diam, lebih baik bergerak atau berusaha mencari makan — atau secara maknanya “bergerak untuk terus mencari (apapun)” — , walaupun sedikit tetapi itu akan kekal, abadi, baka, tidak mudah retak karena lumut kemunafikan, tidak hitam karena sengatan kemalasan, dan tidak pula putih karena keangkuhan teologis, karena yang demikian adalah hasil jerih payah, kerja keras, dan pikiranmu sendiri. Belajarlah! Belajar dengan terus introspeksi walaupun sedikit, tetapi jika itu adalah hasil jerih payah sendiri, maka yang demikian akan abadi, akan selalu dikenang. Internalisasi nilai ini sangat berdampak besar bagi siapapun yang merenunginya secara mendalam dan berhati-hati.
Bagi pelajar yaitu untuk tidak selalu mengeluh, ngresula, dan terlampau banyak berbicara hal-hal yang tidak bermanfaat. Ditambah dengan sikap tidak jujur dalam menuntut ilmu karena hal tersebut dapat mematikan hati — hati dalam pengertian teologis berarti akal — dan mengikis motivasi.
Bagi politisi yaitu untuk selalu menjaga tujuan mulianya dalam menyejahterakan kehidupan masyarakat dengan cara-cara yang halal dan pikiran yang terbuka, objektif, dan kritis.
Memayu hayuning bawono
Ketika berbicara Semar, berbicara pula ketiga anaknya : Gareng, Petruk, dan Bagong. Singkatnya, ketiga anaknya juga memiliki simbol tersendiri secara utuh. Gareng dengan sikapnya yang selalu skeptis dan terus mempertanyakan apapun menjadi simbol kritisisme. Petruk yang berakar kata Fatruk — berasal dari bahasa Arab yang berarti tinggalkanlah — menjadi simbol ketidak terikatan pada dunia. Bagong dengan ketidakpatuhannya pada aturan karena selalu membangkang menjadi simbol revolusi.
Semua hal di atas menunjukkan bahwa Jawa memiliki peradaban intelektual, spiritual, dan mentalitas yang cukup menjadikan seorang manusia berakal, berbudi luhur, dan berperilaku mulia. Nilai-nilai luhurnya sebanding dengan rumusan aljabar Al-Khawarizmi. Ketajaman nasihatnya sejalan dengan semangat revolusi Soekarno-Hatta. Serta produk kontemplasinya senada dengan relativitas umum milik Einstein.
Jawa tidak menjadi besar karena kerajaannya. Jawa menjadi besar karena keluhuran budinya.
Semoga Bermanfaat. 🙏
(Repost Fb Tri Wahyanto, grup Pecinta Budaya Nusantara)