Rabu, 31 Desember 2025

Semae

FILOSOFI SEMAR

Filosofi Semar dapat dikaji baik dari segi fisik maupun dari segi 0 kedudukannya dalam cerita pewayangan. Dari segi fisik, dia bersosok lelaki, tetapi dia memiliki payudara, yang demikian itu menjadi simbol dari pria dan wanita. Wajahnya terlihat keriput, tua, tetapi dia memiliki kuncung hingga membuatnya terlihat seperti anak-anak. Orang tua — yang merupakan ciri kematangan — dan anak-anak — yang menyimbolkan pikiran jernih — menjadi simbol dari tua dan muda.

Semar sebagai dewa memiliki kekuatan- kekuatan yang tidak akan pernah terkalahkan oleh siapapun yang berani menentangnya : tidak pernah lapar, mengantuk, jatuh cinta, sedih, capai, sakit, kepanasan, dan kedinginan. Artinya, dia tidak pernah terpengaruh oleh kekuatan-kekuatan dari luar dirinya. 

Dia hanya fokus pada peningkatan pribadinya hingga apapun yang mungkin mengganggunya dapat dikendalikan di bawah kemudi kesadaran nya. Kekuatan-kekuatan ini disimbolkan pada fisik Semar dengan kuncung yang berjumlah delapan. 

Pada bentuk tangannya juga terlihat bahwa tangan yang satu menghadap ke atas dan tangan yang lain menghadap ke bawah sebagai simbol bahwa rezeki yang datang kepada kita agar dimintakan kepada yang ada di atas, tetapi ketika sudah mendapatkannya jangan lupa untuk selalu berbagi kepada yang ada di bawah kita. Berbagi kepada siapapun, dari strata sosial apa pun, dari warna kulit apa pun, yang berkulit putih, coklat, maupun hitam — yang merupakan warna kulit Semar. 

Dalam sunggingan memang Semar berwarna kulit hitam, tetapi hal itu bukan tanpa makna. Warna kulit hitam pada Semar menyimbolkan Bumi. Bumi dengan sikap ikhlasnya, andhap asor, rendah hati, dan tidak sombong disimbolkan dengan warna kulit hitam pada Semar. Bumi (tanah) mengetahui bahwa air, api, angin, hewan, tumbuhan, kebaikan, dan kejahatan sekalipun hidup di dalamnya, tetapi hal tersebut tidak menjadikannya sombong, tinggi hati. Tanah yang selalu diinjak-injak ikhlas menerima itu semua demi makmurnya kehidupan di Bumi.

“Ojo dumeh, eling, lan waspada”

Selain filosofi fisiknya, dari segi kedudukan, Semar merupakan dewa yang kamanungsan. Semar merupakan dewa — memilki sifat-sifat ketuhanan — yang memanusia, yang selalu bersikap seperti sejatinya manusia (andhap asor, rendah hati, dermawan, bijaksana, dll.). Dewa yang kamanungsan itu dimanifestasikan dengan menjadi ponokawan — bukan punakawan. Jika pono berarti jernih atau memiliki visi yang jelas dan kawan berarti teman, maka ponokawan berarti teman yang berpikiran jernih dan memiliki visi yang jelas.

Semar mampu menjadi teman, kerabat, rekan, atau partner yang senantiasa objektif, kritis, terbuka, dan bervisi jelas terhadap setiap permasalahan yang menimpa temannya.  Dapat juga diinterpretasikan bahwa Semar merupakan pemimpin yang merakyat. 

Antitesis dari Semar adalah Krisna. Krisna merupakan rakyat yang mendewa. Dia lahir dari seorang dewa. Yang demikian ini dapat diinterpretasikan bahwa Krisna merupakan rakyat yang bergaya seperti pemimpin. Tetapi terlepas dari itu semua, kita dapat mengambil hikmah dan kebijaksanaan dari Krisna sekalipun.

Dalam setiap pagelaran wayang yang menampilkan tokoh Semar, sang dalang selalu mengucapkan kalimat berupa sajak dari Semar : Mbegegeg, ugeg-ugeg, mel-mel, sak dulito, langgeng
Mbegegeg berarti “diam”. Ugeg-ugeg berarti “bergerak”. Mel-mel secara harfiah berarti “makan” serta secara makna berarti “mencari”. Sak dulito berarti “walaupun sedikit”. Kemudian langgeng berarti “kekal” atau “abadi”. Maka sajak tersebut bermakna bahwa daripada kita diam, lebih baik bergerak atau berusaha mencari makan — atau secara maknanya “bergerak untuk terus mencari (apapun)” — , walaupun sedikit tetapi itu akan kekal, abadi, baka, tidak mudah retak karena lumut kemunafikan, tidak hitam karena sengatan kemalasan, dan tidak pula putih karena keangkuhan teologis, karena yang demikian adalah hasil jerih payah, kerja keras, dan pikiranmu sendiri. Belajarlah! Belajar dengan terus introspeksi walaupun sedikit, tetapi jika itu adalah hasil jerih payah sendiri, maka yang demikian akan abadi, akan selalu dikenang. Internalisasi nilai ini sangat berdampak besar bagi siapapun yang merenunginya secara mendalam dan berhati-hati. 

Bagi pelajar yaitu untuk tidak selalu mengeluh, ngresula, dan terlampau banyak berbicara hal-hal yang tidak bermanfaat. Ditambah dengan sikap tidak jujur dalam menuntut ilmu karena hal tersebut dapat mematikan hati — hati dalam pengertian teologis berarti akal — dan mengikis motivasi. 

Bagi politisi yaitu untuk selalu menjaga tujuan mulianya dalam menyejahterakan kehidupan masyarakat dengan cara-cara yang halal dan pikiran yang terbuka, objektif, dan kritis.

Memayu hayuning bawono

Ketika berbicara Semar, berbicara pula ketiga anaknya : Gareng, Petruk, dan Bagong. Singkatnya, ketiga anaknya juga memiliki simbol tersendiri secara utuh. Gareng dengan sikapnya yang selalu skeptis dan terus mempertanyakan apapun menjadi simbol kritisisme. Petruk yang berakar kata Fatruk — berasal dari bahasa Arab yang berarti tinggalkanlah — menjadi simbol ketidak terikatan pada dunia. Bagong dengan ketidakpatuhannya pada aturan karena selalu membangkang menjadi simbol revolusi.
Semua hal di atas menunjukkan bahwa Jawa memiliki peradaban intelektual, spiritual, dan mentalitas yang cukup menjadikan seorang manusia berakal, berbudi luhur, dan berperilaku mulia. Nilai-nilai luhurnya sebanding dengan rumusan aljabar Al-Khawarizmi. Ketajaman nasihatnya sejalan dengan semangat revolusi Soekarno-Hatta. Serta produk kontemplasinya senada dengan relativitas umum milik Einstein.

Jawa tidak menjadi besar karena kerajaannya. Jawa menjadi besar karena keluhuran budinya.

Semoga Bermanfaat. 🙏
(Repost Fb Tri Wahyanto, grup Pecinta Budaya Nusantara)

Senin, 29 Desember 2025

simbol kresten

Meskipun Katolik dan Protestan sama-sama menyembah Tuhan yang sama (Yesus Kristus), keduanya memiliki perbedaan mendasar yang berakar pada peristiwa Reformasi Gereja di abad ke-16.

Berikut adalah poin-poin perbedaan utamanya:

​1. Otoritas Tertinggi (Sumber Ajaran)

​Katolik: Percaya pada dua pilar otoritas, yaitu Kitab Suci (Alkitab) dan Tradisi Suci (ajaran lisan yang diwariskan para rasul dan keputusan pemimpin gereja). Katolik juga memiliki pimpinan tunggal tertinggi, yaitu Paus.

​Protestan: Memegang prinsip Sola Scriptura (Hanya Alkitab). Bagi umat Protestan, Alkitab adalah satu-satunya sumber otoritas mutlak. Mereka tidak mengakui kepemimpinan Paus dan cenderung lebih mandiri dalam setiap sinode atau denominasi.

​2. Jumlah Sakramen

​Sakramen adalah upacara suci yang dianggap sebagai sarana rahmat Tuhan.

​Katolik: Mengakui 7 Sakramen (Baptis, Krisma, Ekaristi, Pengakuan Dosa, Pengurapan Orang Sakit, Imamat, dan Perkawinan).

​Protestan: Umumnya hanya mengakui 2 Sakramen yang diperintahkan langsung oleh Yesus dalam Alkitab, yaitu Baptis dan Perjamuan Kudus. 

​3. Pemahaman Kitab Suci

​Katolik: Alkitab Katolik terdiri dari 73 kitab. Ada tambahan kitab yang disebut Deuterokanonika (seperti Tobit, Yudit, Makabe, dll)

​Protestan: Alkitab Protestan terdiri dari 66 kitab. Mereka tidak memasukkan kitab-kitab Deuterokanonika karena dianggap tidak masuk dalam kanon asli Ibrani.

​4. Peran Bunda Maria dan Orang Kudus

​Katolik: Memberikan penghormatan khusus (venerasi) kepada Bunda Maria dan orang-orang kudus (santo/santa). Umat Katolik memohon doa syafaat kepada mereka sebagai perantara kepada Tuhan.

​Protestan: Menghormati Maria sebagai ibu Yesus, namun tidak berdoa melalui perantaraannya atau orang kudus. Mereka percaya bahwa komunikasi doa dilakukan secara langsung kepada Tuhan melalui Yesus Kristus sebagai satu-satunya perantara.

​5. Kehidupan Rohaniwan

​Katolik: Pemuka agamanya disebut Pastor/Romo. Mereka terikat janji selibat (tidak menikah) agar dapat mengabdikan diri sepenuhnya kepada Tuhan dan jemaat.

​Protestan: Pemuka agamanya disebut Pendeta. Mereka diperbolehkan menikah dan memiliki keluarga.

​6. Ibadah dan Simbol
​Katolik: Ibadah utamanya disebut Misa, yang berpusat pada Ekaristi (perjamuan suci). Gereja Katolik biasanya kaya akan simbol seperti patung, salib dengan tubuh Yesus (Crucifix), dan penggunaan dupa atau lilin.

​Protestan: Ibadah utamanya disebut Kebaktian, yang berpusat pada pemberitaan Firman (khotbah). Simbolnya lebih sederhana, dan salib yang digunakan biasanya adalah salib kosong tanpa tubuh Yesus untuk melambangkan kebangkitan.

​Perlu diingat: Meskipun berbeda dalam praktik dan struktur, keduanya tetap sepakat pada inti iman bahwa Yesus Kristus adalah Tuhan dan Juru Selamat.

sembah

TUHAN DISEMBAH SECARA LANGSUNG DAN TIDAK LANGSUNG

Berdasarkan ajaran Bhagavad-gita dan Srimad Bhagavatam, penyembahan kepada Sri Krishna memang dibedakan menjadi dua jalur utama: Sakshat (langsung) dan Paramparyena/Guna (tidak langsung).
Shastra (kitab suci) yang menjelaskan kedua konsep tersebut:

1. Penyembahan Secara Langsung (Sakshat Upasana)

Penyembahan langsung ditujukan kepada bentuk personal Krishna sebagai Tuhan Yang Maha Esa (Bhagavan). Ini melibatkan hubungan kasih sayang (Bhakti) tanpa perantara elemen material atau Dewa-dewa lain.

Dalam kitab auci Bhagavad-gita 9.14 disebutkan:

satataḿ kīrtayanto māḿ
yatantaś ca dṛḍha-vratāḥ
namasyantaś ca māḿ bhaktyā
nitya-yuktā upāsate

Selalu melantunkan kemuliaan-Ku, berusaha dengan tekad yang besar, bersujud di hadapan-Ku, jiwa-jiwa agung ini senantiasa tekun menyembah-Ku dengan penuh pengabdian (bhakti).

ananyāś cintayanto māḿ, 
ye janāḥ paryupāsate 
teṣāḿ nityābhiyuktānāḿ, 
yoga-kṣemaḿ vahāmy aham 

BG 9.22 Tetapi orang yang selalu menyembah-Ku dengan bhakti tanpa tujuan 
yang lain dan bersemadi pada bentuk rohani-Ku—Aku bawakan apa yang dibutuhkannya, dan Aku memelihara apa yang dimilikinya.

Bhagavad-gita 9.34:
man-manā bhava mad-bhakto
mad-yājī māḿ namaskuru
mām evaiṣyasi yuktvāivam
ātmānaḿ mat-parāyaṇaḥ

"Arahkan pikiranmu selalu kepada-Ku, jadilah penyembah-Ku, persembahkan rasa hormat kepada-Ku dan sembah Aku. Dengan sepenuhnya terfokus pada-Ku, niscaya engkau akan datang kepada-Ku."

Juga dalam Bhagavad-gita 18.65:
 man-manā bhava mad-bhakto mad-yājī māṁ namaskuru...

"Berpikirlah tentang-Ku, jadilah penyembah-Ku, persembahkanlah penghormatanmu kepada-Ku, dan sembahlah Aku..."

2. Penyembahan Secara Tidak Langsung (Paroksha/Anyadevata)

Penyembahan tidak langsung terjadi ketika seseorang menyembah Krishna melalui manifestasi energi-Nya, seperti para Dewa (Devata) atau melalui aspek Brahman yang tidak berpribadi. Shastra menjelaskan bahwa meskipun tujuannya adalah Krishna, cara ini dianggap kurang sempurna atau "tidak tepat".

Dalam kitab suci Bhagavad-gita 9.23:
ye ’py anya-devatā-bhaktā 
yajante śraddhayānvitāḥ
te ’pi mām eva kaunteya 
yajanty avidhi-pūrvakam

"Orang yang menyembah dewa-dewa lain dengan penuh kepercayaan sebenarnya menyembah Aku juga, wahai putra Kunti, tetapi mereka melakukan itu dengan cara yang tidak tepat (avidhi-pūrvakam)."

trai-vidyā māḿ soma-pāḥ pūta-pāpā
yajñair iṣṭvā svar-gatiḿ prārthayante 
te puṇyam āsādya surendra-lokam 
aśnanti divyān divi deva-bhogān 

BG 9.20 Orang yang mempelajari Veda dan minum air soma dalam usaha mencapai planet-planet surga, menyembah-Ku secara tidak langsung. Setelah mereka disucikan dari reaksi-reaksi dosa, mereka dilahirkan 
diplanet Indra yang saleh di surga. Di sana mereka menikmati kesenangan para dewa.

#Analogi dari Srimad Bhagavatam:
Sama seperti menyiram akar pohon akan menghidupkan seluruh cabang dan daun, menyembah Krishna secara langsung otomatis memuaskan semua Dewa. Namun, menyiram daun (menyembah Dewa secara terpisah) adalah cara tidak langsung yang tidak efisien.

3. Krishna sebagai Sumber Segala Manifestasi

Shastra menegaskan mengapa penyembahan tidak langsung akhirnya kembali kepada Krishna: karena tidak ada sesuatu pun yang eksis di luar diri-Nya.

Srimad Bhagavatam 1.2.11:
vadanti tat tattva-vidas 
tattvaṁ yaj jñānam advayam
brahmeti paramātmeti bhagavān iti śabdyate

"Para pemaham kebenaran mutlak menyebut hakikat yang satu ini sebagai Brahman, Paramatma, dan Bhagavan."
   
Bhagavad-gita 7.21-22:
Krishna menjelaskan bahwa Dialah yang menguatkan kepercayaan seseorang kepada para Dewa, dan sebenarnya Dialah yang memberikan anugerah melalui para Dewa tersebut.

#Kesimpulan Perbandingan

| Jenis Penyembahan | Objek Fokus | Sifat | Hasil |
|---|---|---|---|
| Langsung | Sri Krishna (Bhagavan) | Vidhi-purvakam (Sesuai aturan tertinggi) | Pembebasan murni & Prema (Cinta kasih) |

| Tidak Langsung | Dewa-dewa / Alam Semesta | Avidhi-purvakam (Kurang tepat) | Hasil sementara & material |

HNCRK

SEMAR : " Jajal mungkuro,ing nggegermu ana tulisan mantra caraka balik,sing unine nga tha ba ga ma,nya ya ja dha pa,la wa sa ta da,ka ra ca na ha.. ".

BHATARA KALA : " Menika ngemu teges ingkang pripun..? "

SEMAR : " Ora kena ditegesi lha kewalik ngono..,sing bener ,ha na ca ra ka,da ta sa wa la,pa dha ja ya nya,ma ga ba tha nga..".

BHATARA KALA : " Lajeng menika dospundi werdinipun ...? "

SEMAR : " Ngene bhatara kala, HA NA CA RA KA tegese ana utusan. Sapa sing ngutus lan sapa ding diutus..? Sing ngutus Gusti kang maha urip,sing diutus sakabehe titah manungsa,supaya nidakake kewajibane urip manut marang kodrate nalika urip.  DA TA SA WA LA tegese datan bisa swala. Werdine manungsa ora bisa swala marang apa kang wis digarisake dening Gusti kang maha urip.. yen durung wancine mati bebasan sewu lara mlumpuk dadi siji,ora bakal kena ing pati,kosokbaline yen wis tekan wancine mati,bebasan ndelik ana leng semut bakal nemoni tekane pati. PA DHA JA YA NYA tegese padha digdayane, werdine kabeh manungsa kui padha kanggonan nafsu patang prekara,kang arane sufiah,amarah,aluamah lan muthmainah. Becike,manungsa iku kudu bisa ngatur karepe nafsu,ora malah diumbar.. nafsu kudu dikendaline.. kudu bisa milah lan milih kanggo kabecikane,merga sing aran nafsu kuwi ora bakal bisa sirna yen ora bareng sirna karo sing nyandang.. kang pungkasan MA GA BA THA NGA,tegese MA kuwi sukma,GA kuwi raga,BHA TA NGA kuwi tegese bathang. Werdine raga kuwi yen wis koncatan sukma dadi bathang ( mati ). Kabeh bali marang asale,yaiku pungkasane urip,bali marang kang maha urip,bali marang asal muasale,bali marang sangkan parane ".

BHATARA KALA : " Owh mekaten werdinipun.."

SEMAR : " Hiyaa.. ,mula sira diarani bhatara kala,ya sang kala. KALA tegese wanci ( wektu ). Gaweanmu mung nguyak lan giri goda marang manungsa.. satemene iku mengku paweling,supaya manungsa urip iku tansah eling kewajibane marang sing maha urip,bisa migunaake wektune sabecik-becike.. tansah eling marang sangkan parane rip,eling asale seka ngendi,saiki ana ngendi,bakal bali menyang ngendi lan apa ta sangune bali..?!

Rahayu..Kalis nir ing Sambikolo.....nuwun.

Minggu, 28 Desember 2025

Gamelan


Pernahkah kita bertanya, mengapa para penjajah begitu bernafsu membawa pulang ribuan naskah kuno dan artefak Nusantara ke museum-museum mereka?
Karena mereka memahami satu hal penting: nenek moyang kita bukanlah masyarakat yang bodoh.
Lihatlah gamelan. Ia bukan sekadar alat musik, melainkan hasil pencapaian tinggi dalam ilmu metalurgi dan fisika bunyi. Ketika banyak bangsa masih berjuang memahami pengolahan logam, para leluhur Nusantara telah menguasai pencampuran tembaga dan timah dengan rasio presisi yang dikenal sebagai gangsa.
Para empu masa lalu bukan sekadar pengrajin, melainkan pemikir dan ilmuwan pada zamannya. Mereka menempa logam bukan hanya untuk membentuk rupa, tetapi juga untuk mengatur struktur dan resonansi material agar menghasilkan frekuensi bunyi yang harmonis dan menenangkan. Inilah teknologi pengetahuan yang dibalut dalam seni dan kebijaksanaan budaya.
Lalu mengapa hari ini kita sering merasa kecil?
Karena label “terbelakang” pernah sengaja dilekatkan agar kita ragu pada warisan leluhur dan perlahan melupakan jati diri sendiri.
Sesungguhnya kita tidak tertinggal. Kita hanya pernah dipaksa lupa bahwa dalam diri kita mengalir darah para ilmuwan, insinyur, seniman, dan penjelajah samudra.
Sudah saatnya berhenti merendahkan diri. Kita adalah bangsa besar dengan sejarah yang cerdas, kreatif, dan bermartabat.

Sembahyang


* Makna Sembahyang *
Sembahyang adalah kata khas nusantara yg menyimpan jejak sejarah bahasa, budaya dan cara pandang spiritual orang² terdahulu.
Ini bukan sekedar istilah keagamaan, tetapi cara memahami relasi manusia dengan yg disembah.

Asal kata sembah + hyang
- Sembah.
Dalam bahasa jawa kuno dan melayu kuno ; sembah berarti hormat mendalam, tunduk dengan kesadaran dan pengabdian kahir batin.
Sembah bukan hanya gestur fisik ( menangkupkan tangan atau dengan bersujud ) tapi dengan sikap batin yg merendah.
- Hyang
Hyang merujuk pada illahi, roh luhur, kekuatan adikodrati leluhur yg telah mencapai kesadaran tinggi. 
Kata ini sangat tua, hidup dalam tradisi nusantara sebelum agama2 besar datang.
Dari sini muncul istilah : sembahyang, kahyangan, parahyangan. 

Makna awal sembahyang
Sembahyang = menghormati dan menyadari kehadiran Hyang artinya bukan hanya berdo'a bukan hanya ritual melainkan menghadirkan kesadaran akan Yang Illahi.
Jadi sembahyang adalah laku batin bukan hanya gerak. 

Orang nusantara lama percaya bahwa Tuhan tidak kekurangan pujian tapi manusialah yg membutuhkan kesadaran.
Jejak tradisi kejawen dikenal dengan tingkatan sembah ;
- sembah rogo - disiplin lahir.
- sembah cipto - pengendalian pikiran
- sembah jiwa - keheningan batin
- sembah roso - menyatu dengan kesadran terdalam.

Trimakasih semoga bermanfaat, jika ada kurang lebihnya bisa di ulas di kolom komentar kita bahas sama2 biar tidak salah paham, toleransi itu indah, kita bukan beragam tapi seragam dan salam NKRI selalu dihati, jiwa dan semangat kita semua.

Rahayu salam budaya 
Matur nuwon 🙏
Ngabekti kawulo Gusti
        2025

Ratu=Raja

Katanya hanya klam omong kosong, setelah di kasih data ini diem dan gak bisa menyanggah pake narasi yang berbobot. Sudah saya bilang dari awal kalau mau belajar sejarah tentang Nusantara, lepaskan dulu itu label atau keyakinan biar hati nya tidak terguncang, kajian ini khusus buat orang orang yang otaknya masih waras, bagi para pembaok dogma gurun minggir dulu. Hiks criiiittt 😁 

Di kawasan kota Talaga terdapat tempat bernama Talagamanggung, dan di sana dikenal sosok terhormat "Ratu Simbar Kancana". 

Selama ini istilah "ratu" diidentikan sebagai sosok "perempuan" atau setara Queen. Padahal dimasa lalu istilah "ratu" maknanya adalah Maharaja / Rajadiraja atau King of The King. Itu sebab bangunan wilayahnya disebut Keratuan (Keraton) dan bukan Kerajaan, karena kerajaan merupakan bawahan dari keratuan. Selain itu secara umum kerajaan kerajaan di Nusantara yg telah ditaklukan oleh pasukan perang Islam tidak lagi disebut kerajaan, berubah nama menjadi "Kesultanan".

Istilah "ratu" dapat kita temukan dalam sebutan lain seperti:
1. Ratu Agung Manikmaya (Prabhu Sindu La-Hyang).
2. Ratu Galuh Agung Sang Taraju Jawadwipa (Ra-Hyang Sanjaya).
3. Ratu Karanten Rakyean Layaran Wangi (Wastukancana)
dst.

Berdasarkan analisa singkat di atas :
1. Talagamanggung bukan kerajaan, melainkan "Keratuan" (keraton) tempat tinggal Sribaduga Maharaja.
2. Istilah Ratu Simbar Kancana, bukan nama bagi perempuan tetapi gelar yg mengandung arti "Maharaja yang di Dadanya Behias Emas".
3. Jika ditelaah lebih rinci terdapat beberapa kesamaan pola antara Siam (Siam-Boja) yg sekarang dikenal sebagai Cambodia yg meliputi Thailand, Vietnam, dsk. 
4. Seluruh Maharaja Nusantara dapat dipastikan memiliki gelar Warman.

Menarik untuk dikaji dan dijadikan bahan diskusi secara sehat, dengan catatan skala kajian bukan sebagai Indonesia tetapi Nusantara.

Rahayu Sagung Dumadi🙏

Bom waktu di surat tanah

s alaam Bom Waktu di Balik Kertas Hijau; Mengapa Membiarkan Sertifikat Tanah Atas Nama Almarhum Orang Tua Adalah 'Bunuh Diri...