Pernahkah kita bertanya, mengapa para penjajah begitu bernafsu membawa pulang ribuan naskah kuno dan artefak Nusantara ke museum-museum mereka?
Karena mereka memahami satu hal penting: nenek moyang kita bukanlah masyarakat yang bodoh.
Lihatlah gamelan. Ia bukan sekadar alat musik, melainkan hasil pencapaian tinggi dalam ilmu metalurgi dan fisika bunyi. Ketika banyak bangsa masih berjuang memahami pengolahan logam, para leluhur Nusantara telah menguasai pencampuran tembaga dan timah dengan rasio presisi yang dikenal sebagai gangsa.
Para empu masa lalu bukan sekadar pengrajin, melainkan pemikir dan ilmuwan pada zamannya. Mereka menempa logam bukan hanya untuk membentuk rupa, tetapi juga untuk mengatur struktur dan resonansi material agar menghasilkan frekuensi bunyi yang harmonis dan menenangkan. Inilah teknologi pengetahuan yang dibalut dalam seni dan kebijaksanaan budaya.
Lalu mengapa hari ini kita sering merasa kecil?
Karena label “terbelakang” pernah sengaja dilekatkan agar kita ragu pada warisan leluhur dan perlahan melupakan jati diri sendiri.
Sesungguhnya kita tidak tertinggal. Kita hanya pernah dipaksa lupa bahwa dalam diri kita mengalir darah para ilmuwan, insinyur, seniman, dan penjelajah samudra.
Sudah saatnya berhenti merendahkan diri. Kita adalah bangsa besar dengan sejarah yang cerdas, kreatif, dan bermartabat.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar