Salaamun `alaikum
Tanggapan:
“Kita tidak kekurangan gelar, kita kekurangan pemikir. Ketika ilmu hanya menjadi prosedur, manusia berubah menjadi operator, dan gelar tinggal simbol.”
Sebuah catatan yang sambung-menyambung di grup WA tegas menyampaikan:
"Kita sedang menyaksikan lahirnya akademisi yang tampak unggul secara administratif tetapi rapuh secara intelektual: gelar tinggi, publikasi melimpah, dan jabatan mapan, tapi kehilangan kemampuan berpikir mandiri. Sistem akademik yang lebih menghargai kuantitas daripada kedalaman telah mengubah ilmu menjadi prosedur, penelitian menjadi produksi, dan jabatan menjadi target birokratis. Teknologi serta cognitive offloading mempercepat gejala ini, membuat membaca mendalam, menulis dari kegelisahan, dan merumuskan pertanyaan orisinal dianggap tidak efisien. Akibatnya, akademisi berubah menjadi operator yang mahir memenuhi metrik tetapi miskin gagasan, sementara tradisi intelektual perlahan terkikis. Bahayanya bukan sekadar banyaknya gelar tanpa makna, melainkan hilangnya generasi pemikir yang seharusnya menjaga arah ilmu pengetahuan dan masa depan bangsa."
Tentu saja kita tidak perlu terlalu cemas. Bukankah kemajuan zaman memang menuntut percepatan?. Jika dahulu seorang profesor harus menghabiskan puluhan tahun bergulat dengan teks, keraguan, dan kesepian intelektual, hari ini semuanya bisa dipersingkat dengan sistem yang lebih efisien. Mengapa harus tenggelam dalam satu buku berbulan-bulan jika ringkasannya dapat selesai dalam beberapa menit?. Mungkin kita memang terlalu romantis pada penderitaan berpikir, seolah kelelahan intelektual adalah syarat mutlak kebijaksanaan.
Lagipula, dunia akademik modern tidak dibangun di atas kontemplasi, melainkan pada bukti yang dapat dihitung. Jumlah artikel jauh lebih sopan daripada kedalaman gagasan, karena angka tidak pernah berdebat. Indeks sitasi lebih mudah dipresentasikan daripada keberanian mempertanyakan asumsi dasar suatu disiplin. Dalam rapat evaluasi, tabel selalu lebih meyakinkan daripada kegelisahan epistemologis. Jadi mengapa kita masih berharap profesor menjadi pemikir, jika spreadsheet sudah cukup untuk membuktikan keunggulan?.
Barangkali kita juga harus berhenti memuja orisinalitas. Bukankah sebagian besar pengetahuan hanyalah pengulangan yang dipoles lebih rapi?. Jika sebuah paragraf dapat disusun dengan cepat oleh mesin, mungkin itu pertanda bahwa paragraf tersebut memang tidak pernah terlalu penting. Jika sebuah penelitian dapat lahir dari template, mungkin memang sejak awal ia hanya ditakdirkan menjadi administrasi ilmiah. Tidak semua hal harus lahir dari pergulatan batin; beberapa cukup lahir dari deadline dan kebutuhan kenaikan jabatan.
Tentang mahasiswa doktoral, kita pun tidak perlu terlalu sentimental. Mereka tidak membutuhkan pembimbing yang berpikir terlalu jauh; itu justru membingungkan. Mereka membutuhkan peta jalan yang jelas, format yang aman, dan daftar jurnal yang tepat sasaran. Tradisi intelektual sering kali terlalu berisik dan tidak efisien. Jauh lebih praktis mewariskan prosedur daripada keraguan, karena prosedur bisa direplikasi, sementara keraguan hanya membuat orang terlambat lulus.
Dan soal cognitive offloading, bukankah itu sebenarnya tanda kemajuan peradaban?. Manusia selalu menciptakan alat untuk mengurangi beban. Kita menciptakan kalkulator agar tidak perlu menghitung, GPS agar tidak perlu mengingat jalan, dan kini sistem cerdas agar tidak perlu terlalu lama berpikir. Mungkin puncak evolusi akademik memang bukan manusia yang semakin tajam, melainkan manusia yang semakin ringan, ringan karena sebagian besar kerja intelektualnya telah berhasil dipindahkan ke tempat lain.
Jika kemudian kemampuan membaca melemah, menulis menjadi dangkal, dan pertanyaan penelitian terdengar seperti hasil daur ulang, mungkin itu hanya nostalgia generasi lama yang sulit menerima perubahan. Setiap zaman punya standarnya sendiri. Dahulu kebijaksanaan diukur dari ketahanan berpikir, sekarang mungkin dari kecepatan merespons reviewer. Dahulu profesor adalah orang yang membuka horizon baru, sekarang cukup menjadi orang yang tidak terlambat mengunggah revisi. Bukankah adaptasi adalah bentuk kecerdasan yang paling realistis?.
Jadi benar, kita seharusnya tidak khawatir. Selama gelar tetap bertambah, pidato pengukuhan tetap berlangsung, dan institusi tetap sibuk memproduksi kebanggaan administratif, semuanya tampak baik-baik saja. Hanya saja, sesekali, di tengah tepuk tangan itu, mungkin ada pertanyaan kecil yang datang terlambat: jika semua orang berhasil menjadi profesor tanpa perlu sungguh-sungguh berpikir, lalu siapa sebenarnya yang masih menjaga ilmu pengetahuan agar tidak berubah menjadi sekadar dekorasi birokrasi?.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar