Sabtu, 28 Maret 2026

Tidak Miskin

Salaamun `alaikum.

Kamu Tidak Miskin, Kamu Cuma Salah Sistem: Memahami Jeratan Kemiskinan Struktural

Pernahkah Anda merasa telah bekerja sangat keras—bangun sebelum matahari terbit, pulang saat larut malam, dan memangkas hampir semua keinginan tersier—namun saldo tabungan Anda tetap berada di titik yang mengkhawatirkan? Di media sosial, kita sering dijejali narasi bahwa "kemiskinan adalah hasil dari kemalasan" atau "setiap orang memiliki 24 jam yang sama." Namun, realitas di lapangan berbicara hal yang berbeda. Banyak orang terjebak dalam lingkaran ekonomi bukan karena kurangnya etos kerja, melainkan karena mereka hidup di dalam sistem yang tidak dirancang untuk memenangkan mereka.

Dalam sosiologi, fenomena ini dikenal sebagai kemiskinan struktural. Ini adalah kondisi di mana individu atau kelompok tidak mampu keluar dari jerat kemiskinan karena hambatan yang ada pada struktur masyarakat, mulai dari akses pendidikan, kebijakan ekonomi, hingga ketimpangan upah.

Mitos Meritokrasi dan Kerja Keras

Narasi meritokrasi menyatakan bahwa kesuksesan adalah murni hasil dari bakat dan usaha. Jika Anda gagal, itu salah Anda. Namun, sosiolog seperti Michael Young, yang menciptakan istilah tersebut, justru bermaksud memperingatkan bahwa meritokrasi bisa menjadi alat untuk melegitimasi ketimpangan.

Bayangkan sebuah perlombaan lari di mana satu peserta memulai dari garis start dengan sepatu lari mutakhir, sementara peserta lain memulai lima kilometer di belakang tanpa alas kaki. Siapa yang kemungkinan besar menang? Di sinilah sistem berperan. Orang yang lahir di keluarga dengan akses modal sosial dan finansial memiliki "jalan tol" menuju kesuksesan. Sebaliknya, mereka yang lahir di keluarga miskin sering kali harus menggunakan seluruh energinya hanya untuk bertahan hidup (survival mode), sehingga tidak memiliki ruang untuk melakukan lompatan besar.

Upah Riil vs. Biaya Hidup

Salah satu kegagalan sistemik yang paling nyata adalah ketimpangan antara pertumbuhan produktivitas dan kenaikan upah riil. Sejak dekade 1970-an di banyak negara (termasuk fenomena global yang merembet ke Indonesia), produktivitas pekerja terus meningkat pesat berkat teknologi, namun upah mereka cenderung stagnan jika disesuaikan dengan inflasi.

Di sisi lain, harga aset dasar seperti properti dan biaya pendidikan tinggi melonjak jauh melampaui kemampuan daya beli kelas pekerja. Saat ini, banyak generasi muda dari kelas menengah-bawah merasa mustahil memiliki rumah tanpa bantuan warisan atau kredit yang mencekik. Ini bukan karena mereka "salah membeli kopi susu," melainkan karena sistem keuangan dan properti saat ini lebih memihak pada pemilik modal besar daripada pembeli rumah pertama.

Perangkap Kemiskinan (The Poverty Trap)

Sistem ekonomi kita sering kali membuat "menjadi miskin itu mahal." Fenomena ini disebut *The Poverty Trap*. Sebagai contoh, seseorang dengan modal kecil terpaksa membeli barang kebutuhan dalam kemasan eceran (saset) yang jika dihitung per gramnya jauh lebih mahal daripada kemasan besar.

Dalam skala lebih luas, sistem perbankan sering kali menutup akses pinjaman berbunga rendah bagi mereka yang tidak memiliki agunan, memaksa masyarakat ekonomi lemah beralih ke pinjaman online ilegal atau rentenir dengan bunga selangit. Ketika sebagian besar pendapatan habis hanya untuk membayar bunga utang, tidak ada ruang tersisa untuk investasi atau tabungan darurat. Ini adalah kegagalan sistem dalam menyediakan inklusi keuangan yang adil.

Pandangan Thomas Piketty: Modal vs. Kerja

Ekonom Prancis Thomas Piketty dalam bukunya yang monumental, *Capital in the Twenty-First Century*, menjelaskan bahwa secara historis, tingkat pengembalian modal (*return on capital*) selalu lebih besar daripada pertumbuhan ekonomi. Artinya, kekayaan yang dihasilkan dari kepemilikan aset (saham, tanah, properti) tumbuh lebih cepat daripada kekayaan yang dihasilkan dari bekerja (gaji).

Implikasinya jelas: sistem saat ini secara otomatis memperlebar jurang antara pemilik modal dan pekerja. Jika Anda hanya mengandalkan tenaga untuk mencari nafkah tanpa memiliki akses ke kepemilikan aset, Anda akan selalu tertinggal dalam perlombaan ekonomi global.

Mengubah Sudut Pandang

Menyadari bahwa sistem memiliki peran besar bukan berarti kita harus menyerah dan bersikap fatalistik. Sebaliknya, kesadaran ini penting untuk menghilangkan *self-blame* atau rasa bersalah yang tidak perlu yang sering kali menghancurkan kesehatan mental masyarakat kelas bawah.

Solusi dari kemiskinan jenis ini tidak bisa hanya dibebankan pada individu. Perlu ada intervensi kebijakan yang radikal, seperti:
1. Pemerataan Akses Pendidikan Berkualitas: Agar kompetisi menjadi lebih adil.
2. Reformasi Perpajakan: Menekan ketimpangan dengan pajak kekayaan yang progresif.
3. Penguatan Jaring Pengaman Sosial: Seperti layanan kesehatan universal yang mumpuni agar satu penyakit tidak menghancurkan ekonomi satu keluarga.

Kesimpulan

Anda tidak miskin karena Anda kurang berusaha. Banyak orang bekerja dua kali lebih keras dari para miliarder namun tetap kesulitan membayar tagihan listrik. Masalahnya sering kali terletak pada desain ekonomi yang mengekstrak nilai dari tenaga kerja tanpa memberikan kompensasi yang adil, serta hambatan struktural yang membatasi mobilitas sosial. Memahami bahwa "sistemnya yang salah" adalah langkah pertama untuk menuntut perubahan yang lebih adil bagi semua orang.

***

Referensi:

Piketty, T. (2014). *Capital in the Twenty-First Century*. Harvard University Press.

Young, M. (1958). *The Rise of the Meritocracy*. Thames and Hudson.

Banerjee, A. V., & Duflo, E. (2011). *Poor Economics: A Radical Rethinking of the Way to Fight Global Poverty*. PublicAffairs.

Stiglitz, J. E. (2012). *The Price of Inequality: How Today's Divided Society Endangers Our Future*. W. W. Norton & Company.

Badan Pusat Statistik (BPS) Indonesia mengenai Data Ketimpangan (Gini Ratio) dan Upah Riil Pekerja.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

kfr

S alaamun `alaikum.... Menembus Tirai “Kufr”: Sebuah Perjalanan Menyingkap Diri Ada kata yang sering kita dengar, namun jarang k...