Sabtu, 28 Maret 2026

Takbiran yang salah artikan

Salaamun `alaikum.
Takbiran yang Salah Jalan
:Refleksi Takbiran Idul Fitri 1447 H di Lereng Muria
.
Malam takbiran sejatinya adalah puncak perjalanan batin umat Islam setelah sebulan penuh berpuasa. Ia bukan sekadar perayaan yang riuh, melainkan ruang pulang yakni tempat manusia kembali kepada fitrahnya, menyadari kembali posisinya sebagai hamba, dan menempatkan Tuhan sebagai pusat dari segala makna. Namun, dalam realitas hari ini, terutama di berbagai daerah termasuk Kudus, takbiran mulai mengalami pergeseran. Ia tak lagi sepenuhnya menjadi ruang dzikir bersama, tetapi perlahan berubah menjadi panggung ekspresi publik yang sering kehilangan kedalaman spiritualnya.
.
Kita bisa melihat perubahan ini dari cara takbiran dirayakan. Arak-arakan yang semakin besar, penggunaan sound system berlebihan atau yang populer disebut sound horeg, hingga munculnya perilaku menyimpang seperti tawuran dan konsumsi minuman keras, semuanya menjadi ironi di tengah gema “Allahu Akbar”. Takbir yang seharusnya menjadi inti, justru sering kali hanya menjadi latar suara dari aktivitas yang cenderung profan.
.
Salah satu hal yang menarik untuk direnungkan adalah kemiripan bentuk takbiran dengan tradisi Ogoh-ogoh. Dalam tradisi aslinya, ogoh-ogoh adalah simbol sifat-sifat buruk manusia yang diarak lalu dibakar sebagai bentuk penyucian diri menjelang Nyepi. Namun ketika semangat arak-arakan ini diadopsi dalam takbiran tanpa pemahaman filosofis yang utuh, maka terjadi kekeliruan. Takbiran bukan tentang mengarak simbol kejahatan, melainkan tentang mengagungkan Tuhan. Ketika simbol diambil tanpa ruhnya, yang tersisa hanyalah bentuk tanpa makna.
.
Di Kudus sendiri, takbir keliling dengan kendaraan hias dan pengeras suara besar semakin menjadi kebiasaan. Dalam banyak kasus, justru sound system menjadi pusat perhatian, bukan lantunan takbirnya. Ini menunjukkan adanya pergeseran orientasi: dari spiritualitas menuju hiburan. Takbir tidak lagi menjadi inti yang menghidupkan suasana, tetapi sekadar pelengkap dari keramaian.
.
Fenomena lain yang juga muncul adalah hadirnya penari dalam arak-arakan takbiran. Seni tari tentu merupakan bagian dari ekspresi budaya yang sah dan bernilai. Namun ketika ia ditempatkan dalam konteks takbiran tanpa kesadaran spiritual, maka ia berpotensi menggeser fokus dari dzikir menjadi tontonan. Acara yang bermula baikpun perlahan berubah menjadi spektakel—dinilai dari seberapa meriah, bukan seberapa dalam maknanya.
Yang lebih memprihatinkan adalah munculnya tawuran di malam takbiran. Ini bukan hanya penyimpangan, tetapi kontradiksi yang nyata. Takbir yang berarti mengagungkan Tuhan justru berdampingan dengan kekerasan antar manusia.
.
Dalam situasi seperti ini, takbiran kehilangan ruhnya sebagai ruang damai dan refleksi diri.
Tidak kalah mengkhawatirkan adalah praktik konsumsi minuman keras dalam perayaan takbiran. Ini menjadi paradoks yang tajam. Di satu sisi, manusia mengumandangkan kebesaran Tuhan, tetapi di sisi lain ia menenggelamkan kesadarannya sendiri. Jika dalam tradisi ogoh-ogoh sifat buruk itu dilambangkan untuk kemudian dimusnahkan, maka dalam takbiran yang salah tafsir, sifat buruk itu justru dipertontonkan tanpa rasa bersalah.
.
Dari berbagai fenomena tersebut, terlihat bahwa persoalan utamanya bukan pada tradisi takbir keliling itu sendiri, melainkan pada hilangnya kesadaran filosofis. Takbiran sejatinya adalah ibadah, bukan sekadar budaya. Ketika ia hanya dipahami sebagai tradisi tanpa makna, maka ia mudah kehilangan arah. Sebaliknya, budaya yang dihidupi dengan kesadaran spiritual justru bisa menjadi sarana dakwah yang kuat.
.
Refleksi ini menjadi penting bagi masyarakat Kudus, sebuah wilayah yang memiliki akar sejarah Islam yang kuat, terutama sebagai tanah dakwah Sunan Muria. Para wali dahulu tidak menolak budaya, tetapi mengisinya dengan nilai. Mereka menjadikan budaya sebagai medium untuk mendekatkan manusia kepada Tuhan. Spirit inilah yang seharusnya dihidupkan kembali dalam tradisi takbiran hari ini.
.
Takbiran seharusnya menjadi ruang kontemplasi bersama. Ia adalah momen kemenangan—bukan atas orang lain, tetapi atas diri sendiri. Kemenangan atas hawa nafsu, atas ego, dan atas dorongan destruktif yang ada dalam diri manusia. Jika malam takbiran justru diisi dengan euforia yang tak terkendali, maka sesungguhnya yang hilang bukan hanya ketertiban, tetapi juga makna terdalam dari Idul Fitri itu sendiri.
.
Mengembalikan makna takbiran bukan berarti menghapus tradisi, melainkan meluruskannya. Arak-arakan bisa tetap ada, tetapi dengan nilai. Sound system bisa digunakan, tetapi tidak mendominasi. Seni bisa hadir, tetapi menyatu dengan pesan spiritual. Dan yang paling penting, takbir harus kembali menjadi pusat—bukan sekadar suara yang terdengar, tetapi kesadaran yang hidup di dalam hati.
.
Idul Fitri adalah tentang kembali. Maka takbiran pun seharusnya menjadi jalan untuk kembali, bukan justru menjauh. Kudus, dengan kekayaan budaya dan spiritualitasnya, memiliki peluang besar untuk menjadi contoh bagaimana tradisi dan nilai bisa berjalan beriringan. Bukan takbiran yang kehilangan makna, tetapi takbiran yang benar-benar menghidupkan jiwa.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

kfr

S alaamun `alaikum.... Menembus Tirai “Kufr”: Sebuah Perjalanan Menyingkap Diri Ada kata yang sering kita dengar, namun jarang k...