Salaamun `alaikum
Hening, Pulang, dan Memaafkan
Refleksi Spiritual Jawa dan Islam
Di tanah Nusantara, perbedaan keyakinan bukanlah hal baru. Sejak berabad-abad lalu, berbagai tradisi, agama, dan cara memandang Tuhan hidup berdampingan dalam satu ruang kehidupan. Karena itu, ketika seseorang mengucapkan selamat kepada mereka yang merayakan Nyepi dan juga kepada yang merayakan Idul Fitri, sebenarnya ia sedang mengingatkan kita pada satu hal yang lebih dalam dari sekadar ucapan: kerinduan manusia pada kedamaian batin.
Nyepi mengajarkan tentang hening.
Pada hari itu, manusia diajak berhenti dari hiruk pikuk dunia: tidak menyalakan api, tidak bepergian, tidak bersuara keras. Dalam spiritualitas, keheningan bukan sekadar tidak berbicara. Ia adalah laku menepi, kembali ke dalam diri, menimbang ulang langkah hidup yang sering terbawa arus keinginan.
Dalam kebijaksanaan Jawa, keadaan ini sering disebut mulih marang batin—kembali kepada pusat diri. Karena di dalam keheningan, manusia mulai mendengar suara yang sering tertutup oleh kegaduhan dunia: suara nurani.
Sementara itu, Idul Fitri mengajarkan tentang pulang.
Setelah sebulan menempuh laku pengendalian diri, manusia diajak kembali kepada fitrah—kepada hati yang lebih ringan dan bersih. Tradisi saling memaafkan menjadi inti perayaan ini. Bukan sekadar adat sosial, tetapi sebuah kesadaran bahwa manusia tidak pernah benar-benar bebas dari kesalahan.
Dalam Islam, memaafkan bukan hanya bentuk kebaikan kepada orang lain, tetapi juga cara membebaskan diri dari beban hati. Sementara dalam kebijaksanaan Jawa, memaafkan adalah jalan menjaga rukun, menjaga keseimbangan hubungan antarmanusia.
Jika direnungkan lebih dalam, keheningan Nyepi dan kemenangan Idul Fitri sebenarnya bertemu di satu titik yang sama: pembersihan jiwa.
Keheningan membuat manusia melihat dirinya sendiri.
Kemenangan membuat manusia berdamai dengan sesamanya.
Dalam laku spiritual Jawa ada ajaran memayu hayuning bawana—merawat keindahan dan harmoni dunia. Dunia menjadi indah bukan karena semua orang sama, tetapi karena manusia mampu hidup berdampingan tanpa kehilangan kasih.
Begitu pula dalam ajaran Islam, manusia diajarkan menjadi rahmat bagi semesta—membawa kedamaian, bukan pertentangan.
Karena itu, ucapan damai lintas keyakinan sebenarnya bukan tentang mencampuradukkan iman, melainkan tentang menghormati perjalanan spiritual manusia yang berbeda-beda menuju Tuhan.
Pada akhirnya, setiap tradisi mengajarkan hal yang serupa:
belajar menundukkan ego, membersihkan hati, dan membuka ruang bagi kasih.
Mungkin dunia tidak akan pernah benar-benar sepi dari perbedaan. Tetapi selama manusia masih mau hening sejenak untuk melihat dirinya, dan memaafkan untuk menjaga sesamanya, selalu ada harapan bahwa kedamaian tetap memiliki tempat di bumi ini.
Sebab perjalanan spiritual manusia pada akhirnya selalu menuju satu arah:
kembali kepada hati yang jernih.
Rahayu.🙏
Salam damai bagi Bumi Nusantara dan seluruh semesta. ✨
Tidak ada komentar:
Posting Komentar