Salaam
Kita jujur saja.
Selama lebih dari 1400 tahun, umat Islam:
punya satu kiblat
satu kitab
satu Nabi
Tapi tidak punya:
satu kalender.
Setiap tahun:
Ramadan beda
Lebaran beda
Iduladha beda
Seolah-olah:
waktu dalam Islam itu tidak pernah benar-benar disepakati.
1939: Kesadaran itu sudah ada
Seorang ulama Mesir, Ahmad Muhammad Syakir bilang:
“Kita butuh kalender Islam yang pasti dan terukur.”
Ini bukan ide baru.
Ini ide lama… yang terus ditunda.
1978–2004: Sains sudah menyelesaikan masalahnya
Para ilmuwan Muslim mulai menyusun model:
Mohammad Ilyas (1978) → model zona
Nidhal Guessoum (1993) → penyempurnaan sistem
Jamaluddin Abd ar-Raziq (2004) → konsep revolusioner:
satu hari, satu tanggal untuk seluruh dunia
Jadi jelas:
masalahnya bukan di ilmu
tapi di kesepakatan
2008: Dunia Islam setuju… tapi berhenti
Organisasi Kerja Sama Islam di Dakar menyatakan:
kalender Islam global itu penting
Tapi seperti banyak forum internasional:
sepakat di meja
buntu di lapangan
2016: Istanbul jadi titik temu
Konferensi internasional diadakan di Turki oleh
Diyanet
Hasilnya:
lahir kesepakatan Kalender Hijriah Global Tunggal (KHGT)
Artinya:
tidak ada lagi batas negara
tidak ada lagi zona waktu Hijriah
satu dunia → satu tanggal
Muhammadiyah: dari ikut diskusi jadi pelaku
Muhammadiyah tidak berhenti di wacana.
2015 (Makassar) → mulai diarahkan
2022 (Surakarta) → dipertegas
2024 (Pekalongan) → diputuskan
2025 (Yogyakarta) → diluncurkan resmi
Dan 2026:
mulai dipakai
Ini penting:
bukan lagi ide… tapi implementasi
Tapi kok Muhammadiyah dan Turkiye Beda?
Di sinilah banyak orang salah paham.
Keduanya sama-sama merujuk hasil Istanbul 2016.
Tapi cara membaca “global” itu berbeda.
Muhammadiyah:
Global tanpa kompromi
seluruh bumi = satu matlak (satu zona kalender)
kalau hilal memenuhi syarat di satu titik (bahkan wilayah ekstrem seperti Alaska)
seluruh dunia ikut
Logikanya:
kalau sudah mungkin terlihat di bumi, berarti bulan baru sudah masuk
Turkiye (Diyanet):
Global tapi dengan pertimbangan praktis
tidak semua wilayah ekstrem dijadikan acuan
masih ada unsur regional & administratif
Logikanya:
global iya, tapi tetap mempertimbangkan realitas wilayah dan populasi
Intinya di sini
Perbedaannya bukan soal sains.
tapi soal filosofi keberanian mengambil konsekuensi global
Muhammadiyah: konsisten → satu dunia harus satu tanggal
Turki: moderat → global, tapi tidak sepenuhnya dipaksakan
Contoh nyata (2026)
Saat awal Ramadan 1447 H:
Muhammadiyah → lebih awal (karena pakai wilayah ekstrem sebagai dasar: Alaska)
Turki → satu hari setelahnya
Padahal:
sama-sama pakai hisab
sama-sama rujuk Istanbul
Artinya:
beda tafsir, bukan beda ilmu
Apa yang sedang terjadi sebenarnya?
KHGT membuka satu kenyataan:
umat Islam belum sepakat bukan karena tidak bisa…
tapi karena terhalang ego sektoral.
Masalah umat hari ini bukan kurang ilmu.
Ilmu sudah selesai.
Masalahnya:
siapa yang berani konsisten sampai ke ujung?
Karena kalender global itu tidak setengah-setengah.
Kalau mau global:
harus berani menerima konsekuensi global
Kalau tidak:
akan terus berada di antara
“ingin satu… tapi ego tetap didepankan”
Tidak ada komentar:
Posting Komentar