Jumat, 16 Januari 2026

Teknologi Leluhur

MISTERI KECANGGIHAN TEKNOLOGI LELUHUR BANGSA INDONESIA

Di zaman dahulu kala, para nenek moyang kita sudah menemukan banyak penemuan yang terbilang canggih. Tetapi sayang sekali banyak orang Indonesia sendiri tidak menyadarinya. Kali ini saya berikan "Edukasi Publik" tentang fakta sejarah yang akan saya tulis beberapa Teknologi Kuno Nenek Moyang Indonesia.

BOROBUDUR : BUKTI KECANGGIHAN TEKNOLOGI DAN ARSITEKTUR MAHA AGUNG

Borobudur adalah candi yang diperkirakan mulai dibangun sekitar 824 Masehi oleh Raja Mataram bernama Samaratungga dari Wangsa Syailendra. Borobudur merupakan bangunan candi yang sangat megah. Tidak dapat dibayangkan bagaimana nenek moyang kita membangun Candi Borobudur yang demikian berat dapat berdiri kokoh dengan tanpa perlu memakukan ratusan paku bumi untuk mengokohkan pondasinya.

Tak terbayangkan pula bagaimana batu-batu yang membentuk Candi Borobudur itu dibentuk dan diangkut ke area pembangunan di atas bukit. Bahkan dengan kecanggihan yang ada pada masa kini, sulit membangun sebuah candi yang mampu menyamai Candi Borobudur. Borobudur juga mengadopsi Konsep Fraktal. Fraktal adalah bentuk geometris yang memiliki elemen-elemen yang mirip dengan bentuknya secara keseluruhan. Candi Borobudur sendiri adalah Stupa Raksasa yang di dalamnya terdiri dari stupa-tupa lain yang lebih kecil. Terus hingga ketidakberhinggaan.

KAPAL JUNG JAVA : TEKNOLOGI KAPAL RAKSASA NUSANTARA

Jauh sebelum Laksamana Cheng Ho dan Columbus, para penjelajah Laut Nusantara sudah melintasi sepertiga bola dunia. Meskipun sejak 500 tahun sebelum Masehi orang-orang China sudah mengembangkan beragam jenis kapal dalam berbagai ukuran. Dalam catatan perjalanan keagamaan I-Tsing (671-695 M) dari Kanton ke Perguruan Nalanda di India Selatan disebutkan bahwa ia menggunakan kapal Sriwijaya, negeri yang ketika itu menguasai lalu lintas pelayaran di "Laut Selatan".

Pelaut Portugis yang menjelajahi Samudra pada pertengahan abad ke-16 Diego de Couto dalam buku Da Asia, terbit 1645 menyebutkan, orang Jawa lebih dulu berlayar sampai ke Tanjung Harapan, Afrika, Madagaskar. Ia mendapati penduduk Tanjung Harapan awal ke-16 berkulit coklat seperti orang Jawa. "Mereka mengaku keturunan Jawa", kata Cuoto, sebagaimana dikutip Anthony Reid dalam Buku Sejarah Modern Awal Asia Tenggara.

Berdasarkan relief kapal di Candi Borobudur membuktikan bahwa sejak dulu nenek moyang kita telah menguasai teknik pembuatan kapal. Kapal Borobudur telah memainkan peran utama dalam segala hal dalam bahasa Jawa pelayaran, selama ratusan ratus tahun sebelum abad ke-13 Masehi. Memasuki abad ke-8 Masehi awal, kapal Borobudur digeser oleh Jung besar Jawa, dengan tiga atau empat layar sebagai Jung. Kata "Jung" digunakan pertama kali dalam perjalanan Biksu Odrico Jurnal, Johan de Marignolli, dan Ibnu Batutta berlayar ke Nusantara, awal abad ke-14 Masehi, mereka memuji kehebatan Kapal Jawa Raksasa sebagai Penguasa Laut Asia Tenggara. Teknologi pembuatan "Jung" tak jauh berbeda dari karya kapal Borobudur ; seluruh badan kapal dibangun tanpa menggunakan paku.

KERIS : KECANGGIHAN TEKNOLOGI PENEMPAAN LOGAM

Teknologi logam sudah lama berkembang sejak awal masehi di Nusantara. Para Empu sudah mengenal berbagai kualitas kekerasan logam. Keris memiliki teknologi penempaan besi yang luar biasa untuk ukuran masyarakat di masa lampau. Keris dibuat dengan teknik penempaan, bukan dicor.

Teknik penempaan disertai pelipatan berguna untuk mencari kemurnian besi, yang mana pada waktu itu bahan-bahan besi masih komposit dengan materi-materi alam lainnya. Keris yang mulanya dari lembaran besi yang dilipat-lipat hingga kadang sampai ribuan kali lipatan sepertinya akan tetap senilai dengan prosesnya yang unik, menarik dan sulit. Perkembangannya teknologi tempa tersebut mampu menciptakan satu teknik tempa Tosan Aji (Tosan = besi, Aji = berharga).

Pemilihan akan batu meteorit yang mengandung unsur titanium sebagai bahan keris, juga merupakan penempaan nenek moyang kita yang mengagumkan. Titanium lebih dikenal sebagai bahan terbaik untuk membuat keris karena sifatnya ringan namun sangat kuat. Kesulitan dalam membuat keris dari bahan Titanium adalah titik leburnya yang mencapai 60 ribu derajat celcius, jauh dari titik lebur besi, baja, atau nikel yang berkisar 10 ribu derajat celcius.

Titanium ternyata memiliki banyak keunggulan dibandingkan jenis unsur logam lainnya. Unsur titanium itu keras, kuat, ringan, tahan panas, dan juga tahan karat.

Unsur logam titanium baru ditemukan sebagai unsur logam mandiri pada sekitar tahun 1940, dan logam yang kekerasannya melebihi baja namun jauh lebih ringan dari besi. Dalam peradaban modern sekarang, titanium dimanfaatkan orang untuk membuat pelapis hidung pesawat angkasa luar, serta ujung roket dan peluru kendali antar benua.

Sungguh luar biasa kan teknologi yang dikuasai nenek moyang/leluhur kita..!!!

Jadi orang Jawa atau orang Nusantara itu sejak abad 1 sudah punya kapal bagus Jung Java yang berlayar sampai ke China dan Afrika itu 5 abad sebelum Islam ada !!!

Orang Jawa atau orang Nusantara abad 8 juga sudah bisa membuat Candi Borobudur dan Candi Prambanan, di saat Islam cuma bisa bangun kotak dari lempung.

Orang Jawa atau Nusantara sudah mengenal logam di saat negara-negara lain apalagi Arab/Timur-Tengah belum menguasainya, leluhur nenek moyang kita sudah mahir membuat keris dengan bahan material logam dn batu meteor... 

Tentang bermoral dan berkemanusiaan ;

Orang Jawa atau orang Nusantara abad 12 sudah bisa Berfilsafat Bhinneka Tunggal Ika, Tan Hana Dharma Mangrwa, menjunjung persatuan di tengah-tengah perbedaan, di saat Islam masih bunuh-bunuhan ratusan tahun Sunni-Syiah sesama Islam, menghancurkan Mu'tazilah, dan ribut tiada henti dengan agama lain.

Lha ini masak sih, kok Islam atau orang Arab mau ngajarin dan nyeramahin orang Jawa atau orang Nusantara. Yang ada Arab dan Agama Islam harus belajar dari sejarah Jawa/Nusantara ...🇮🇩❤🇮🇩

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

kfr

S alaamun `alaikum.... Menembus Tirai “Kufr”: Sebuah Perjalanan Menyingkap Diri Ada kata yang sering kita dengar, namun jarang k...