Daun bisa berbeda warna,
namun semua tumbuh dari akar yang sama.
----------------------------------------------------------------------
Bayangkan kebenaran seperti sebuah pohon besar.
Kitab-kitab adalah daun.
Buku-buku adalah ranting.
Serat-serat adalah cabang.
Ajaran adalah bentuk.
Indah…
namun mudah gugur saat musim berganti.
Banyak manusia memilih hidup di daun—
sibuk memperdebatkan bentuknya,
warnanya,
siapa yang paling hijau.
Padahal daun tidak pernah menumbuhkan pohon.
Ia hanya tumbuh **karena akar.**
Para nabi, para bijak, para leluhur
tidak hidup di daun.
Mereka hidup di akar
tempat kesadaran pertama kali berdenyut.
Muhammad tidak mengajarkan huruf—
ia menunjuk tauhid.
Lao Tzu tidak menulis panjang—
ia menunjuk Tao.
Buddha tidak mewariskan dogma—
ia menunjuk sadar.
Ramana Maharshi tidak membangun sistem—
ia menunjuk “Aku”.
Osho tidak menambah ajaran—
ia merobohkan kepalsuan.
Mereka tidak menanam daun baru.
Mereka kembali ke **akar yang sama.**
Akar itu tak bernama.
Tak beragama.
Tak berwujud.
Ia hanya sumber hidup.
Ketika manusia hidup di daun,
ia bertengkar.
Ketika manusia turun ke akar,
ia mengerti.
Daun boleh jatuh.
Kitab boleh berbeda.
Zaman boleh berganti.
Namun akar tetap memberi kehidupan
tanpa pernah meminta disembah.
Maka jangan tanyakan
daun mana yang paling benar.
Tanyakan satu hal saja:
**apakah hidupmu masih terhubung pada akarnya?**
Karena siapa pun yang minum dari akar,
akan berbuah kasih,
bukan perpecahan.
Dan siapa pun yang lupa pada akar,
akan terus bertengkar di daun—
hingga pohonnya sendiri mati. πΏπ³
Tidak ada komentar:
Posting Komentar