Zikir Ilmu Sejati atau Sejatining Ilmu.
Ilmu sejati menurut Paguyuban Pangarso Budi Utomo Roso Manunggal Jati adalah merupakan ilmu yang sebenar – benarnya ilmu. Ilmu sejati atau sejatining ilmu, dalam bahasa religius disebut ilmu hakikat.
Bila direnungkan dalam kejernihan rasa, apa yang disebut ilmu sejati atau sejatining ilmu, itu apa Lantas seperti apa? Sehingga banyak orang penasaran dan memburu ilmu sejati.
Dalam samudra rohani, bab ilmu batin untuk menemukan ilmu sejati, harus memfokuskan pada diri sendiri yaitu memasuki diri pribadi atau batinnya. Dalam khasanah budaya kebatinan, memasuki batin berarti menjalankan tirakat tarak brata, babagan ilmu sejati untuk mencapai sesuatu melalui jalan spiritual.
Karena yang dibahas babagan bab yang gaib atau kerohanian, kepercayaan, cara menempuhnya melalui jalan sunyi. Sunyi yang dimaksudkan bukan kesunyian malam hari atau suasana malam yang pekat, suasana alam sekitar di luar diri manusia, tetapi disini yang dimaksud adalah kesunyian batin dan rohani, sedangkan sunyi yang dituju adalah “SUNYI RURI” artinya Ngambah Alam Sunya Ruri.
Bila kita membahas ilmu batin, semakin lama semakin asyik, menyenangkan karena menyangkut kelembutan, kejernihan batin, hal yang samar, yang gaib untuk menuju alam yang begitu rumit dan berat, ibarat bagaikan mencari sarang angin. Namun bila sudah sampai waktu ketemu walaupun di pintunya, maka semuanya menjadi terang dan jelas. Semua yang samar menjadi jelas, yang gaib menjadi nyata.
Untuk sampai pada yang dituju, maka ditempuh dengan jalan tarak brata, tirakat dikatakan berat ya berat, dikatakan ringan ya ringan dan dikatakan lama juga lama, dikatakan cepat juga cepat tergantung terhadap individu masing-masing. Jalannya dengan patrap semedi, mengheningkan cipta, tafakur memuji Allah Yang Maha Esa, dengan demikian laku ini berarti berjalan menuju Tuhan Yang Maha Esa? Makna dan syaratnya harus suci dan bersih, bukan saja bersih jiwa juga angan-angan, keinginan-keinginan harus bersih, harus benar-benar kosong tanpa permintaan apapun.
Walau fokusnya pikiran hanya mempelajari keanugrahan Tuhan Yang Maha Esa, hikmah dan sejenisnya, harus sepi ing pamrih, apabila ada sedikit saja rasa pamrih akan mengalami hambatan, kesulitan menerima sasmito atau perlambang.
Perilaku memesu raga harus benar-benar pasrah terhadap kehendak Allah Yang Maha Esa hingga wening jiwa sampai terasa nyep, hilang semua nafsu, keinginan, sirep atau hilangnya semua keinginan suci jiwa menyatu dengan Hyang Widdhi, maka pada giliran yang akan mengalami layapnya aluput, ngelangut, kondisi ini berarti bahwa rohani tanpa batas, hampa, kosong, tenang, luas tidak ada batasnya. Itulah …. Sunyi ruri, tapi ada pengingat agar senantiasa waspada dengan apa yang dilihat. Sebab berdirinya sukma murbo, yakni zat yang tidak kasat mata, tidak bersifat, tanpa nama, tidak bisa disebut seperti apa, itulah yang meliputi semua yang tergelar di jagat raya.
Untuk menghidupkan batin, dalam laku dengan cara tafakur, memejamkan mata seperti perintah-Nya “Merem Sing Dipet” (pejamkan mata yang rapat). Dengan memejamkan mata yang rapat, maka konsentrasi akan tertuju pada satu titik, yaitu Tuhan Yang Maha Esa, agar mubah dunia ada dalam pikiran bisa sirep, harus berjalan di atas rel, garis rel yang dimaksud adalah zikir menurut Paguyuban Pangarso Budi Utomo Roso Manunggal Jati, ini sarinya zikir yaitu “Huu … Allah …”
Zikir Huu Allah ini diatur sedimikian mengikuti alur keluar masuknya napas, fokus konsentrasi pada napas, saat menghirup disertai memuji … Huu, ketika menghembuskan nafas dibarengi menyebut Allah, zikir demikian dilakukan terus menerus jangan sampai kemasukan pikiran yang aneka warna, bila sudah mampu berjalan diatas jalur zikir “Huu … Allah …” yang di baca terus – menerus hingga ngelangut, pada akhirnya akan dihempas cahaya, gebyaran cahaya yang membawa jiwa kita pindah ke alam lain, laksana mimpi, kita akan melihat dan mengalami sesuatu, bisa melihat ke zaman jauh sebelum kita lahir atau menjangkau ke waktu sebelum terjadi atau yang akan datang. Hal tersebut bisa tercapai bila ditempuh dengan cara meditasi tarak brata.
Dasar meditas tarak brata Paguyuban Pangarso Budi Utomo Roso Manunggal Jati berpegang pada :
A. Panca Walika
1.Kudu tresno sepadaning urip
2.Hora keno nerak wewalering negoro
3.Hora keno nerak sing dudu sakmesthine
4.Hora sepata hanyepatani
5.Hora cidra hing upaya (janji)
Rerangkepe :
Hora butuh rewang
Hora butuh musuh
Butuhe kabecikan (becik)
B. Catur Upaya
1. Hanirupa kang becik
2. Hanuruta kang bener
3. Hangguguha kang nyata
4. Hamiliha kang pikoleh
C. Jroning Makartekake Pakarti Kang Gegayutan Karo Gayuh
1.Aja gumampang
2.Aja nggampangake
3.Aja golek gampang
Mungguh kang sameshine makarti kanti satiti, nyuwun tuntunaning sari.
Demikianlah uraian zikir ilmu sejati atau sejatining ilmu menurut Paguyuban Pangarso Budi Utomo Roso Manunggal Jati.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar