Kamis, 11 Desember 2025

SESAJI

KENAPA DI NUSANTARA, POHON SERING DISAKRALKAN & DIBERI SESAJI?

Di banyak daerah di Nusantara, pohon dan hutan kerap disakralkan. Beberapa masyarakat adat masih suka memberikan sesaji di bawah pohon, lengkap dengan hasil Bumi dan juga dupa atau kemenyan yang sangat harum. Mereka juga kerap mengatakan bahwa setiap pohon memiliki roh. Bahkan ada beberapa pohon yang dianggap sangat sakral, memiliki roh penunggu khusus, atau Danhyang, atau Bhatara yang melindungi tak hanya pohon itu saja. Tapi juga ekosistem di sekitarnya.

Tak jarang, kisah-kisah mistis juga disematkan terhadap pohon-pohon ini. Ada yang bilang, pohon sakral itu tidak boleh ditebang atau dipotong sama sekali, nanti penunggunya marah. Ada yang bilang, kawasan hutan tertentu tidak boleh dibabat, karena nanti leluhur, dewa, atau roh suci yang mendiami hutan tersebut bisa marah dan mendatangkan bencana.

Dulu, ekosistem hutan dan pepohonan dijaga dengan cara mensakralkan dan memberi kisah-kisah mistis agar tidak diganggu warga kelestariannya. Dulu, leluhur kita belum mampu membahasakan, bahwa oksigen yang dihasilkan pohon, air hujan yang disimpan oleh pohon, cara akar pohon menjaga stabilitas tanah, energi yang mengalir di antara irama pohon, bencana alam, dan fenomena-fenomena alam lainnya itu adalah sesuatu yang fisika dan kimia. Dulu, pengetahuan fisika, kimia, dan biologi belum semasif sekarang. Mereka hanya bisa mengenali fenomena-fenomena alam tersebut dalam bentuk roh, dewa, atau danhyang. Dan dulu, fenomena semacam ini sangat dihormati.

Bagi leluhur kita, ini bukan sekedar “menyembah” alam. Tapi ini adalah dalam rangka menyatukan Kesadaran manusia dengan Kesadaran alam semesta, sehingga terjadilah harmonisasi hidup dan kelestarian. Bagaimana hal ini bisa terjadi?

***

Pernahkan Kalian Mengamati, Pohon-Pohon yang Disakralkan oleh Masyarakat Adat Nusantara, Kebanyakan adalah Pohon-Pohon Berukuran Besar & Punya Peran Krusial dalam Menjaga Ekosistem?

Di Nusantara, terutama  di daerah Jawa dan Bali, ada beberapa jenis pohon yang paling sering disakralkan oleh masyarakat adatnya. Pohon-pohon inilah yang paling sering diupacarai, diberi sesaji, dan dijaga kesakralannya melalui kesadaran kolektif berupa penyematan kisah-kisah mistis. Tiga pohon tersebut adalah pohon beringin (banyan), pohon pule, dan pohon kepuh. Apakah kalian bisa melihat apa persamaan dari 3 jenis pohon ini?

Ya. Ketiganya memiliki ukuran “raksasa” (sangat besar). Batangnya besar, akarnya berupa akar tunjang yang sangat kuat dan berkembang ke mana-mana, serta daunnya sangat rimbun sehingga menghasilkan Oksigen (O2) berlimpah. Ini oleh masyarakat Jawa dan Bali dianggap sebagai pohon yang sangat penting bagi keberlangsungan ekosistem Bumi.

Makanya jangan heran, ketika kalian pergi ke hutan-hutan adat, atau ke desa-desa yang masih kental dengan tradisi spiritualnya, kalian bisa menemukan beberapa dupa dan sesaji dihaturkan di bawahnya. Beberapa batang pohon juga ditutup dengan kain khusus, entah berwarna putih, emas, atau motif hitam putih (poleng) yang khas. Semua ini, tidak hanya bermakna spiritual saja. Tapi ada tujuan ekologi besar di baliknya, di mana leluhur kita dulu belum mampu menjelaskannya secara sains.

Mereka hanya berkali-kali bilang : “Jika pohon dan hutan dihabisi, maka alam akan marah. Para dewa dan leluhur akan marah dan mengubur kita balik lewat banjir dan tanah longsor.”

Di beberapa daerah di Indonesia, sampai sekarang masih ada tradisi dan upacara khusus demi menghormati pohon dan hutan ini.

(a) Sesaji Rewanda (Banyuwangi)

Ini adalah model sesaji di bawah pohon, di mana masyarakat Banyuwangi tidak hanya memberikan persembahan bagi pohon saja. Tapi juga mempersembahkan beberapa makanan untuk monyet-monyet yang tinggal di sekitar pohon, demi menjaga keseimbangan alam.

(b) Sesaji Rejeban (Jawa Barat)

Ini adalah model sesaji memberikan kepala, kaki, dan ekor hewan korban (seperti kambing atau kerbau) di bawah pohon gondang yang dianggap sakral. Ini biasanya dilakukan sekaligus sebagai ritual tolak bala (mencegah datangnya sial atau kejadian buruk) sekaligus berharap berkah dari alam.

(c) Sesaji Mahesa Lawung (Keraton Solo)

Ini adalah ritual tahunan yang dilakukan oleh Keraton Solo di Alas Krendawahana (Hutan Keramat) dengan sesaji yang sangat kompleks. Meliputi hewan korban, beberapa hasil bumi, bunga, dan wewangian, yang ditujukan kepada Dewi pelindung keraton. Dewi di sini tentu saja adalah Dewi dalam konteks kekuatan feminin Illahiah yang menjadi penjaga Keraton Solo.

(d) Tradisi Dhukutan (Kejawen)

Di masyarakat Kejawen (masyarakat Jawa yang beragama Islam tapi masih terpengaruh oleh ritual Hindu Buddha), mereka juga punya tradisi persembahan berupa tumpeng, bunga, dan makanan yang dipersembahkan kepada arca-arca khusus yang terletak di daerah suci atau hutan. Dan biasanya ritual ini diakhiri dengan melempar sesaji sebagai ritual buang sengkala (membuang energi negatif dari dalam diri atau lingkungan tempat tinggal).

Dalam buku Darmagandhul, ada sebuah kisah perdebatan antara Sunan Bonang dengan Butalocaya. Dalam perdebatan itu, Butalocaya marah kepada Sunan Bonang karena ia merusak sebuah arca gupala (arca penjaga) yang diletakkan di bawah pohon dadap dan diberi sesaji oleh masyarakat Jawa.

Bagi Sunan Bonang, memberikan sesaji kepada arca-arca yang diletakkan di bawah pohon atau di tempat-tempat sakral dianggap sebagai bentuk pemujaan atau penyembahan yang syirik. Sehingga sebagai wali, ia merasa harus menghancurkannya.

Padahal dalam tradisi Jawa, memberikan sesaji kepada arca yang ada di area tertentu, atau yang ada di bawah pohon, bukan berarti bentuk menyekutukan Tuhan dan kemusyrikan. Arca itu sendiri tidak dianggap berhala oleh masyarakat Jawa. 

Butalocaya mengatakan kepada Sunan Bonang, kalaupun orang Jawa memberikan sesaji, itu hanyalah sebatas tanda penghormatan saja. Bukan menyembah. Yakni agar semua demit (energi jahat) tidak tinggal di sawah atau tanaman. Karena sawah dan tanaman itu menghasilkan panen yang menjadi sumber makanan manusia. Makanya para demit itu diberi tempat tersendiri, yakni di dalam arca-arca gupala tersebut.

Hal ini memang tampak mistis juka kita dengarkan kisahnya di beberapa tahun lalu. Tapi sekarang, dengan semakin ditemukannya sains dan beragam ilmu modern lainnya, kita jadi memahami .. “Oh ternyata energi-energi dan fenomena alam yang merugikan peradaban manusia dulu dianggap sebagai demit atau roh jahat.” 

Dan untuk menghindarinya, manusia berusaha menjaga Kesadaran Kolektif mereka dengan membuat arca dan sesaji sebagai anchor di Pikiran Bawah Sadar. Ini semua dijelaskan dalam buku “The Magic of Reality” dan “Becoming Supernatural”.

🥬🥬🥬🥬

Uniknya orang yang mengalami Kebangkitan Spiritual, biasanya akan menjadi lebih peka dengan Kesadaran Kolektif semacam ini. Ini karena memang semakin tinggi level Kesadaran kita, kita juga semakin bisa berpikir transenden dan filosofis. Makin tinggi Kesadarannya, makin cerdas pula secara spiritual, emosional, dan intelektual. Sehingga bisa menelaah dan menafsirkan kisah-kisah mistis

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

kfr

S alaamun `alaikum.... Menembus Tirai “Kufr”: Sebuah Perjalanan Menyingkap Diri Ada kata yang sering kita dengar, namun jarang k...