Selasa, 25 November 2025

Di Buat Bodoh

KENAPA KITA SEKARANG DIBUAT BODOH?

Melihat dari bukti-bukti sejarah yang ada, sebenarnya leluhur kita dulu sudah memiliki tingkat kecerdasan dan level pembelajaran yang tinggi. Dan ini sudah terjadi sejak Abad Pertengahan Eropa. Di saat benua Eropa masih struggle dengan Zaman Kegelapan yang identik dengan perang di mana-mana, kelaparan, kedinginan, dan gagal panen, Nusantara malah hidup makmur dan mendirikan banyak ashram sebagai pusat pembelajaran.

Di ashram-ashram tersebutlah para cantrik (pelajar) belajar banyak hal tentang kehidupan dan sains. Bahkan keberadaan ashram zaman dulu menjadi cikal bakal penting pembangunan candi-candi sebagai pusat ibadah dan budaya. Selain itu, ilmu tata kelola negara juga dipelajari dalam ashram ini. Ini adalah sekolahnya para intelektual dan bangsawan, dan sudah ada jauh sebelum Eropa mendirikan universitas-universitas kuno seperti Oxford di Inggris dan Bologna di Italia.

Lalu kenapa pembelajaran kita sekarang downgrade? Jika dulu leluhur Nusantara belajar hingga mencapai level tertinggi dalam Taksonomi Bloom, sekarang sekolah-sekolah justru seolah mengunci level belajar kita di level yang paling rendah : Mengingat (Remember). 

Akibatnya, murid-murid yang dihasilkan juga cuma sekedar bisa menghafal. Daya pikir kritisnya juga tidak berkembang. Kemudian, jangankan menciptakan sinkretisme agama dan budaya baru. Berpikir memecahkan masalah saja belum tentu bisa, karena sejak kecil yang paling banyak diajari adalah mengingat dan menghafal.

Jika ditilik dari sejarah, sebenarnya ini adalah model pembelajaran yang khas dilakukan oleh sekolah-sekolah di era Revolusi Industri. Sistem sekolah seperti ini dikembangkan oleh Rockefeller dan para Elit Global lainnya di zaman itu, yang banyak mendanai yayasan untuk perkembangan sekolah. Jika kalian membaca buku “The Wealth of Nation” maka di sana akan tampak jelas sekali polanya.

Revolusi Industri melahirkan kapitalisme yang sangat masif. Dalam kapitalisme, bisnis industri menjadi generator uang yang sangat besar bagi para Elit Global. Supaya industri bisa berjalan dengan lancar, maka diperlukan banyak buruh untuk bekerja mengoperasikan mesin dan produksi.

Buruh di sini tidak perlu orang pintar-pintar. Cukup orang yang penurut dan mudah menghafal. Itulah kenapa pembelajaran di sekolah pun kemudian difokuskan kepada menghafal dan mengingat, yakni level belajar paling rendah dalam Taksonomi Bloom.

Dalam sistem pembelajaran di sekolah-sekolah mindstream, siswa yang mampu berpikir kritis itu adalah siswa yang berbahaya. Karena nanti mereka tidak bisa menjadi buruh massal dan menjalankan produksi. Itulah kenapa dulu pendidikan di level berpikir yang lebih maju menjadi mahal dan hanya bisa diakses oleh anak-anak para Elit Global saja.

Jika mundur ke sejarah kolonialisme, pola berpikir leluhur Nusantara itu berbahaya. Karena di level belajar yang paling tinggi, mereka tak hanya mampu bepikir kritis. Tapi otak mereka juga mulai bisa mengkoneksikan titik-titik (connecting the dots) menjadi sebuah informasi utuh. Jika otak manusia bisa berpikir sampai di level ini, maka manusia akan susah dimanipulasi.

Di level kecerdasan yang tinggi, otak manusia juga sudah mulai berpikir antar-dimensi. Alias, mereka tidak hanya berpikir di dimensi yang sekarang saja. Tapi bahkan sudah mulai bisa mendapatkan informasi-informasi dari masa depan. Inilah yang disebut dengan kewaskitaan di zaman dulu. Terdengar mistis, padahal bukan. Ini adalah default-nya otak manusia.

Justru karena potensi otak yang segini canggihnya, makanya leluhur Nusantara dulu bisa memiliki peradaban yang maju dibandingkan negara-negara di Eropa, yang masih menggantungkan diri dari perang dan perdagangan barang-barang dari Asia (Timur Jauh) yang datang melalui selat di Konstantinopel. Timur Jauh ini ya termasuk Nusantara.

Ketika Kekaisaran Turki Ottoman mulai menguasai Mediterania di Abad ke - 15 M dan menutup jalur perdagangan dengan bangsa Kristen di Konstantinopel, di sinilah penjajahan Eropa dimulai atas bangsa-bangsa yang dulunya makmur dan maju. 

Bangsa Eropa mau tidak mau harus berpikir otak untuk menemukan “sumber emas” asli di Timur Jauh untuk menopang hidup mereka di Eropa. Sumber emas ini dalam legenda mereka adalah India / Indo / Hindia, sebuah negeri di Timur Jauh yang kaya akan emas dan sumber daya alam. Dan barang siapa bangsa yang mampu menguasainya, maka akan mendapatkan kemakmuran tanpa henti, bahkan menjadi negara adi daya.

Belanda berhasil menguasai Nusantara dan menamakannya Hindia Belanda. Belanda, yang saat itu orang-orang VOC-nya mayoritas adalah anggota FREEMASON, mereka menyadari bahwa spiritualitas dan filsafat Nusantara itu berbahaya jika dibiarkan berkembang. Karenanya mereka harus menguasainya, menjajahnya dengan mengubah sejarah, mengacak-acak gen leluhur, merampas rontal dan harta peninggalan Kerajaan lokal, serta mengunci kesadaran manusia Nusantara agar tidak bisa berkembang, dengan mengembangkan doktrin dan dogma.

Dulu bangsa Nusantara tidak boleh belajar di sekolah formal, kecuali keturunan bangsawan yang mau bekerja sama dengan Belanda. Itupun seringkali masih harus menghadapi rasisme yang menurunkan trauma antar generasi. Dan trauma ini meluas hingga ke elemen-elemen masyarakat lokal lainnya.

***

Terus bagaimana sih membuat diri kita kembali cerdas seperti leluhur-leluhur di zaman dulu? Pada dasarnya jika kalian sudah mengalami kebangkitan Spiritual dan sabar menjalani prosesnya, maka dengan sendirinya, level Kesadaran juga mengalami peningkatan. Kalau Kesadaran meningkat, maka kecerdasan diri juga otomatis meningkat. Ini sudah saya bahas selengkapnya di Online Course yang berjudul “Kebangkitan Spiritual & Penyembuhan”.

Ini bagus kalian ikuti kalau kalian mengalami Kebangkitan Spiritual dan ingin tahu langkah apa saja yang harus dilakukan setelah mengalami proses kebangkitan. Di sini saya juga bahas, tahapan dalam diri apa saja yang terjadi setelah Kebangkitan Spiritual dialami. Kenapa dengan sendirinya kita tergerak untuk melakukan penyembuhan? Dan apa yang terjadi pada tubuh dan Kesadaran seiring dengan penyembuhan dan pencarian jati diri dilakukan.

Di Online Course ini juga sudah saya lengkapi dengan hipnoterapi 3x yang semuanya dirancang untuk penyembuhan, sehingga ketika kita mulai sembuh, di situlah terjadi transendensi kesadaran.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

kfr

S alaamun `alaikum.... Menembus Tirai “Kufr”: Sebuah Perjalanan Menyingkap Diri Ada kata yang sering kita dengar, namun jarang k...