Salaamun `alaikum....
Menembus Tirai “Kufr”: Sebuah Perjalanan Menyingkap Diri
Ada kata yang sering kita dengar, namun jarang kita renungi dengan jernih: kufr. Selama ini ia kerap dipahami sebagai label, bahkan tuduhan. Padahal, dalam kedalaman maknanya, kufr bukan sekadar identitas—ia adalah keadaan batin. Ia bukan sekadar tentang “siapa”, tetapi tentang “bagaimana seseorang hidup”.
Akar kata kufr berarti menutup, menyembunyikan, atau mengubur. Seperti petani yang menanam benih ke dalam tanah, seperti malam yang menyelimuti dunia dengan gelapnya, seperti laut yang menyimpan rahasia di kedalamannya. Semua itu adalah gambaran: ada sesuatu yang tertutup, sesuatu yang tidak tampak.
Di situlah letak renungannya—apakah dalam diri kita ada kebenaran yang sedang kita tutupi?
Barangkali kufr bukan selalu tentang menolak dengan keras. Kadang ia hadir lebih halus: ketika kita tahu yang benar, tetapi menundanya; ketika hati telah mengakui, tetapi ego enggan mengikuti; ketika cahaya telah datang, namun kita memilih tetap di balik bayang-bayang.
Sebaliknya, iman adalah keberanian untuk membuka. Membuka hati terhadap kebenaran. Membuka diri untuk bertumbuh. Membuka jalan agar potensi yang ditanamkan dalam diri manusia tidak terkubur sia-sia.
Maka kufr bukan sekadar lawan dari iman, tetapi lawan dari kejujuran batin.
Ada pula sisi lain yang sering luput: kufr berlawanan dengan syukur. Jika syukur adalah menampakkan nikmat—menghidupkan, mengembangkan, dan membagikannya—maka kufr adalah menyembunyikan nikmat itu. Bukan hanya tidak berterima kasih, tetapi membiarkan potensi diri layu, tidak tumbuh, tidak memberi manfaat.
Bukankah itu juga bentuk pengingkaran?
Dalam perjalanan hidup, manusia selalu dihadapkan pada pilihan: membuka atau menutup. Menghidupkan atau mengubur. Mengakui atau mengingkari.
Namun yang paling dalam dari semuanya adalah ini: kufr sering kali bukan karena tidak tahu, tetapi karena tidak mau. Bukan karena gelap, tetapi karena enggan melihat.
Kesombongan, iri hati, rasa cukup terhadap diri sendiri—semua itu perlahan menjadi tirai yang menutupi kebenaran. Hingga akhirnya seseorang tidak lagi mampu melihat, mendengar, atau memahami dengan jernih. Bukan karena kehilangan indera, tetapi karena kehilangan kepekaan.
Dan saat itulah hidup berubah arah—dari perjalanan menuju makna, menjadi sekadar rangkaian pemuasan keinginan. Hidup hanya diukur dari apa yang dimakan, dinikmati, dan dimiliki. Seakan manusia tidak berbeda dari makhluk lain yang hidup tanpa kesadaran akan tujuan yang lebih tinggi.
Padahal dalam diri manusia ada sesuatu yang lebih dari sekadar tubuh—ada “diri” yang bisa tumbuh, berkembang, dan melampaui kematian. Diri inilah yang memerlukan kebenaran sebagai cahaya.
Maka refleksi ini bukan untuk menunjuk orang lain. Bukan untuk memberi label. Tetapi untuk bertanya pada diri sendiri:
Apakah ada kebenaran yang sudah kita pahami, tetapi belum kita jalani?
Apakah ada potensi dalam diri yang kita kubur karena takut, malas, atau ragu?
Apakah kita hidup sekadar mengikuti keinginan, atau sedang menuju sesuatu yang lebih tinggi?
Karena mungkin, batas antara iman dan kufr bukanlah garis yang memisahkan “kita” dan “mereka”.
Melainkan garis halus di dalam diri kita sendiri—yang setiap hari kita lewati, entah menuju cahaya… atau kembali menutupnya.