Sabtu, 25 Juli 2026

1.

Salaamun `alaikum
Lihat Satu Titik Ini .
Seluruh keberadaan, termasuk si Tuhan
Terkandung dalam titik itu

Inilah realita rekursif.

Bagi yang ingin paham, saya jelaskan:

Kita gunakan satu kata tanya saja dulu: APA

APA titik itu?
Titik itu adalah satu pixel di komputer.

APA pixel itu?
Pixel adalah titik terkecil penyusun gambar atau tampilan digital

APA tampilan digital itu?
Tampilan digital (digital display) adalah teknologi visual, seperti panel layar LCD atau LED, yang menyajikan informasi, iklan, atau konten multimedia secara dinamis.

APA teknologi visual itu?
Teknologi visual adalah segala jenis teknologi yang berkaitan dengan pembuatan, pemrosesan, dan penyampaian informasi melalui elemen gambar, video, grafik, atau animasi.

Saya harap sejauh ini anda sudah mulai paham, rentetan pertanyaan itu masih sangat jauh dari berakhir, dan itu baru satu kata tanya, dan setiap tahap hanya ditanyakan tentang satu hal saja.

Setelah sekian jauh rentetan pertanyaan berproses, pada suatu tahap bisa dipastikan akan menyebut kata "titik" dalam jawabannya, jadi recursive.

Apakah jumlah pertanyaan yang mungkin untuk ditanyakan, bisa dihitung? Rasanya tidak bisa.

Apakah itu artinya jumlah pertanyaan yang mungkin untuk ditanyakan, tidak terhingga? Tidak.

Tidak bisa dihitung dengan "tidak terhingga" memiliki makna yang berbeda. Tidak bisa dihitung hanya memiliki makna bahwa sesuatu tidak memiliki batas yang bisa diukur menggunakan metoda yang ada dalam matematika manusia. Tidak terhingga memiliki makna tanpa batas.

Jika seluruh kata tanya yang mungkin ditanyakan, ditanyakan mengikuti setiap tahapan, dan menanyakan setiap elemen yang bisa ditanyakan, pada akhirnya pertanyaan serta jawabannya akan memuat segala kata yang mungkin anda gunakan untuk mendeskripsikan keberadaan, termasuk Tuhan.

Mampukah kemampuan kognitif anda mencerna dan menerima hal ini?

Minggu, 19 Juli 2026

Adam versi Hindu


Salaam
Benarkah Nabi Adam hingga Nuh ada di Kitab Suci Hindu?

Selama ini, kisah Nabi Adam identik dengan tradisi Islam, Kristen, dan Yahudi. Ia dikenal sebagai manusia pertama, yang bersama istrinya tinggal di taman kenikmatan (Surga) , kemudian digoda oleh Iblis (versi Alkitab Iblis berwujud seekor ular) hingga memakan buah terlarang dan akhirnya diturunkan ke bumi.

Lalu apakah ada juga dalam Kitab Hindu ?
Berikut Kutipan Kitab Bhavisya Purana, Pratisarga Parva dari situs Hindu Online:

“Di sebelah timur Kota Pradan terbentang sebuah hutan besar yang dianugerahkan Tuhan, dengan luas enam belas yojana persegi (204,8 km.). Di tempat itulah tinggal seorang lelaki bernama     आदम (Adama) Ia menetap di bawah sebuah     पापवृक्ष Pāpa-vṛkṣa (pohon dosa), sementara hatinya selalu dipenuhi kerinduan kepada istrinya,     हव्यवती Havyavati.

Pada saat itulah     कलिपुरुष Kali Puruṣa (Iblis) datang dengan menyamar sebagai seekor ular. Dengan tipu daya dan rayuannya, ia berhasil memperdaya keduanya hingga mereka berani melanggar perintah Dewa Wisnu (Tuhan). Adama pun memakan buah terlarang dari pohon dosa itu.

Sejak peristiwa tersebut, kehidupan mereka berubah. Mereka bertahan hidup hanya dengan menghirup udara dan memakan daun-daun pohon udumbara. Dari pasangan itu lahirlah beberapa putra, dan seluruh keturunannya kemudian dikenal sebagai kaum mleccha (leluhur bangsa non India). Adama sendiri dikaruniai umur yang sangat panjang, yaitu 930 tahun.”

Sementara kita berhenti disini.

Apa kesamaannya selain jalan cerita ?

-Tokoh pertama bernama Adama, yang secara fonetik sangat dekat dengan nama Adam.
- Adama hidup bersama istrinya sebelum terjadinya pelanggaran terhadap perintah Tuhan.
- Terdapat sebuah pohon yang tidak boleh dimakan buahnya.
- Godaan datang melalui seekor ular yang menipu manusia.
- Pelanggaran dimulai ketika buah dari pohon terlarang dimakan.

Selain itu Umur Adama Dalam teks Bhavisya Purana disebutkan:

“Adama’s duration of life was nine-hundred and thirty years.”
“Usia Adama adalah sembilan ratus tiga puluh tahun.”

Angka tersebut ternyata sama persis dengan keterangan dalam Alkitab:

“Jadi Adam mencapai umur sembilan ratus tiga puluh tahun, lalu ia mati.”
— Kejadian (Genesis) 5:5 (TB)

Dan kesamaan ini bukan hanya terbatas pada tokoh Adama dan Havyawati tapi juga keturunannya. Kemudian kita lanjut baca 

“Sepeninggal Adama, putranya yang bernama Sveta-nama memerintah. Ia hidup selama 912 tahun. Dari Sveta-nama lahirlah Anuta, yang masa pemerintahannya seratus tahun lebih singkat daripada ayahnya. Setelah Anuta wafat, kekuasaan beralih kepada putranya, Kinasa, yang memerintah selama masa yang sama seperti kakeknya. Kemudian tampuk pemerintahan diteruskan oleh putranya, Malahalla, yang memerintah selama 895 tahun. Sesudah itu, Virada naik takhta dan memerintah selama 160 tahun.

Virada kemudian digantikan oleh putranya, Hamuka. Berbeda dengan para pendahulunya, Hamuka dikenal sebagai seorang penyembah Dewa Wisnu yang sangat tekun. Ia senantiasa mempersembahkan kurban berupa buah-buahan, hingga akhirnya memperoleh keselamatan. Setelah memerintah selama 365 tahun, ia naik ke surga bersama jasadnya, meskipun tetap menjalankan mleccha-dharma.

Hamuka memiliki seorang putra bernama Matocchila, yang memerintah selama 970 tahun. Setelah itu kekuasaan diteruskan oleh putranya, Lomaka, yang memerintah selama 777 tahun sebelum akhirnya berpulang ke surga.”

Sveta-nama hidup 912 tahun, sama seperti Set dalam Alkitab Yahudi, putra Adam, yang juga berusia 912 tahun (Kejadian 5:8). Malahalla berusia 895 tahun, sama dengan Mahalaleel dalam Alkitab (Kejadian 5:17). Sementara Matocchila hidup 970 tahun, sangat dekat dengan usia Metusalah yang mencapai 969 tahun (Kejadian 5:27).

di tengah silsilah muncul seorang tokoh saleh. Hamuka digambarkan sebagai penyembah Tuhan yang taat, tekun mempersembahkan kurban, hingga akhirnya memperoleh keselamatan dan naik ke surga. Dalam Alkitab tokoh ini adalah yaitu, yang “hidup bergaul dengan Allah” dan kemudian diangkat oleh Allah ke langit (Kejadian 5:24).

Dan gongnya adalah ada silsilah tersebut berakhir pada tokoh Nyuha (Nuh). 

“Dari Lomaka lahirlah Nyuha (Nuh), yang memerintah selama 500 tahun. Ia memiliki tiga orang putra bernama Sima, Sama, dan Bhava.

Pada suatu malam, Dewa Wisnu menampakkan diri kepadanya melalui sebuah mimpi, lalu berfirman,

“Wahai Nyuha yang Kukasihi, dengarkanlah. Tujuh hari lagi akan datang suatu kehancuran besar yang melanda dunia. Karena itu, segeralah membuat sebuah bahtera yang besar dan naiklah ke dalamnya. Wahai pemimpin para penyembah-Ku, engkau kelak akan dikenang sebagai seorang raja yang agung.”

Setelah terbangun, Nyuha segera melaksanakan perintah tersebut. Ia membangun sebuah bahtera yang sangat kokoh, dengan panjang tiga ratus kaki, lebar lima puluh kaki, dan tinggi tiga puluh kaki. Bahtera itu dibuat dengan sangat baik sehingga mampu menjadi tempat perlindungan bagi berbagai makhluk hidup. Setelah semuanya selesai dipersiapkan, Nyuha pun menaiki bahtera itu, seraya menenangkan hati dan memusatkan seluruh pikirannya dalam meditasi kepada Dewa Wisnu.”

Dalam Teks Hindu menyebut nama mereka Sima, Sama, dan Bhava, sedangkan Alkitab menyebut Sem, Ham, dan Yafet (Kejadian 5:32; 6:10). Dan keduanya sama-sama naik membuat perahu dan berhasil menghadapi banjir besar.

Yang membuat saya berpikir bukan hanya nama Ādama.

Tetapi rangkaian ceritanya: usia 930 tahun, digoda ular, memakan buah terlarang, silsilah panjang, lalu berakhir pada Nyuha (Nuh).

Kalau Anda membaca kemiripan ini, apa kesimpulan pertama yang terlintas di benak Anda? apakah hanya kebetulan semata ?

Jumat, 03 Juli 2026

wifi


GE MASIH NGOMONGIN JARINGAN, SAYA SEJAK TAHUN 60 AN UDAH PASANG WIFI DI KUTUB SELATAN
Prof. Dr. Ir. Drs. Heri Heriyadi, S Capuccino, S. Milky Latte, SPPG, MBG, KDMP, S.EMKA

Saya sungguh tertawa sampai berhari hari melihat masih banyak orang yang percaya Satelit, bahkan ketika saya mengingat itu saya bisa spontan tertawa ngakak dimana pun berada. Gimana gak bikin tertawa, Satelit kok dipercaya.

Sejak era perang dingin tahun 1960 an saya sudah terlibat proyek kabel optik Internet dan pemasangan BTS bahkan hingga pelosok Nusantara. Untuk itulah saya dipercaya Elit Global pada tahun 1984 untuk memasang beberapa repeater WiFi di kutub selatan, bahkan diluar dinding es kutub selatan atau diluar kubah langit Bumi Datar kita. 

Tujuannya adalah agar para peneliti Dinosaurus yang sekarang masih hidup dan berkembang biak di luar tembok es kutub selatan alias di Bumi Datar sebelah bisa terus terhubung dengan BTS terdekat di Bumi Datar kita. 

Jadi buat kamu para GE yang masih sok ngomongin Satelit, jaringan, dan internet, mohon maaf, saya jaaaaaaauuuuuuuuhhhhh lebih berpengalaman daripada kalian, dan saya beneran ketawa sampai guling-guling kalo ingat para GE ngomongin satelit itu ada. Bahkan terakhir saya ketawa ngakak guling-guling di pasar saat baca komenan yang bilang ada penampakan Satelit yang katanya diambil pake teleskop.

Jumat, 01 Mei 2026

kfr

Salaamun `alaikum....

Menembus Tirai “Kufr”: Sebuah Perjalanan Menyingkap Diri
Ada kata yang sering kita dengar, namun jarang kita renungi dengan jernih: kufr. Selama ini ia kerap dipahami sebagai label, bahkan tuduhan. Padahal, dalam kedalaman maknanya, kufr bukan sekadar identitas—ia adalah keadaan batin. Ia bukan sekadar tentang “siapa”, tetapi tentang “bagaimana seseorang hidup”.
Akar kata kufr berarti menutup, menyembunyikan, atau mengubur. Seperti petani yang menanam benih ke dalam tanah, seperti malam yang menyelimuti dunia dengan gelapnya, seperti laut yang menyimpan rahasia di kedalamannya. Semua itu adalah gambaran: ada sesuatu yang tertutup, sesuatu yang tidak tampak.
Di situlah letak renungannya—apakah dalam diri kita ada kebenaran yang sedang kita tutupi?
Barangkali kufr bukan selalu tentang menolak dengan keras. Kadang ia hadir lebih halus: ketika kita tahu yang benar, tetapi menundanya; ketika hati telah mengakui, tetapi ego enggan mengikuti; ketika cahaya telah datang, namun kita memilih tetap di balik bayang-bayang.
Sebaliknya, iman adalah keberanian untuk membuka. Membuka hati terhadap kebenaran. Membuka diri untuk bertumbuh. Membuka jalan agar potensi yang ditanamkan dalam diri manusia tidak terkubur sia-sia.
Maka kufr bukan sekadar lawan dari iman, tetapi lawan dari kejujuran batin.
Ada pula sisi lain yang sering luput: kufr berlawanan dengan syukur. Jika syukur adalah menampakkan nikmat—menghidupkan, mengembangkan, dan membagikannya—maka kufr adalah menyembunyikan nikmat itu. Bukan hanya tidak berterima kasih, tetapi membiarkan potensi diri layu, tidak tumbuh, tidak memberi manfaat.
Bukankah itu juga bentuk pengingkaran?
Dalam perjalanan hidup, manusia selalu dihadapkan pada pilihan: membuka atau menutup. Menghidupkan atau mengubur. Mengakui atau mengingkari.
Namun yang paling dalam dari semuanya adalah ini: kufr sering kali bukan karena tidak tahu, tetapi karena tidak mau. Bukan karena gelap, tetapi karena enggan melihat.
Kesombongan, iri hati, rasa cukup terhadap diri sendiri—semua itu perlahan menjadi tirai yang menutupi kebenaran. Hingga akhirnya seseorang tidak lagi mampu melihat, mendengar, atau memahami dengan jernih. Bukan karena kehilangan indera, tetapi karena kehilangan kepekaan.
Dan saat itulah hidup berubah arah—dari perjalanan menuju makna, menjadi sekadar rangkaian pemuasan keinginan. Hidup hanya diukur dari apa yang dimakan, dinikmati, dan dimiliki. Seakan manusia tidak berbeda dari makhluk lain yang hidup tanpa kesadaran akan tujuan yang lebih tinggi.
Padahal dalam diri manusia ada sesuatu yang lebih dari sekadar tubuh—ada “diri” yang bisa tumbuh, berkembang, dan melampaui kematian. Diri inilah yang memerlukan kebenaran sebagai cahaya.
Maka refleksi ini bukan untuk menunjuk orang lain. Bukan untuk memberi label. Tetapi untuk bertanya pada diri sendiri:
Apakah ada kebenaran yang sudah kita pahami, tetapi belum kita jalani?
Apakah ada potensi dalam diri yang kita kubur karena takut, malas, atau ragu?
Apakah kita hidup sekadar mengikuti keinginan, atau sedang menuju sesuatu yang lebih tinggi?
Karena mungkin, batas antara iman dan kufr bukanlah garis yang memisahkan “kita” dan “mereka”.
Melainkan garis halus di dalam diri kita sendiri—yang setiap hari kita lewati, entah menuju cahaya… atau kembali menutupnya.

Minggu, 26 April 2026

Gelar

Salaamun `alaikum

Tanggapan:
“Kita tidak kekurangan gelar, kita kekurangan pemikir. Ketika ilmu hanya menjadi prosedur, manusia berubah menjadi operator, dan gelar tinggal simbol.”

Sebuah catatan yang sambung-menyambung di grup WA tegas menyampaikan:
"Kita sedang menyaksikan lahirnya akademisi yang tampak unggul secara administratif tetapi rapuh secara intelektual: gelar tinggi, publikasi melimpah, dan jabatan mapan, tapi kehilangan kemampuan berpikir mandiri. Sistem akademik yang lebih menghargai kuantitas daripada kedalaman telah mengubah ilmu menjadi prosedur, penelitian menjadi produksi, dan jabatan menjadi target birokratis. Teknologi serta cognitive offloading mempercepat gejala ini, membuat membaca mendalam, menulis dari kegelisahan, dan merumuskan pertanyaan orisinal dianggap tidak efisien. Akibatnya, akademisi berubah menjadi operator yang mahir memenuhi metrik tetapi miskin gagasan, sementara tradisi intelektual perlahan terkikis. Bahayanya bukan sekadar banyaknya gelar tanpa makna, melainkan hilangnya generasi pemikir yang seharusnya menjaga arah ilmu pengetahuan dan masa depan bangsa."

Tentu saja kita tidak perlu terlalu cemas. Bukankah kemajuan zaman memang menuntut percepatan?. Jika dahulu seorang profesor harus menghabiskan puluhan tahun bergulat dengan teks, keraguan, dan kesepian intelektual, hari ini semuanya bisa dipersingkat dengan sistem yang lebih efisien. Mengapa harus tenggelam dalam satu buku berbulan-bulan jika ringkasannya dapat selesai dalam beberapa menit?. Mungkin kita memang terlalu romantis pada penderitaan berpikir, seolah kelelahan intelektual adalah syarat mutlak kebijaksanaan.

Lagipula, dunia akademik modern tidak dibangun di atas kontemplasi, melainkan pada bukti yang dapat dihitung. Jumlah artikel jauh lebih sopan daripada kedalaman gagasan, karena angka tidak pernah berdebat. Indeks sitasi lebih mudah dipresentasikan daripada keberanian mempertanyakan asumsi dasar suatu disiplin. Dalam rapat evaluasi, tabel selalu lebih meyakinkan daripada kegelisahan epistemologis. Jadi mengapa kita masih berharap profesor menjadi pemikir, jika spreadsheet sudah cukup untuk membuktikan keunggulan?.

Barangkali kita juga harus berhenti memuja orisinalitas. Bukankah sebagian besar pengetahuan hanyalah pengulangan yang dipoles lebih rapi?. Jika sebuah paragraf dapat disusun dengan cepat oleh mesin, mungkin itu pertanda bahwa paragraf tersebut memang tidak pernah terlalu penting. Jika sebuah penelitian dapat lahir dari template, mungkin memang sejak awal ia hanya ditakdirkan menjadi administrasi ilmiah. Tidak semua hal harus lahir dari pergulatan batin; beberapa cukup lahir dari deadline dan kebutuhan kenaikan jabatan.

Tentang mahasiswa doktoral, kita pun tidak perlu terlalu sentimental. Mereka tidak membutuhkan pembimbing yang berpikir terlalu jauh; itu justru membingungkan. Mereka membutuhkan peta jalan yang jelas, format yang aman, dan daftar jurnal yang tepat sasaran. Tradisi intelektual sering kali terlalu berisik dan tidak efisien. Jauh lebih praktis mewariskan prosedur daripada keraguan, karena prosedur bisa direplikasi, sementara keraguan hanya membuat orang terlambat lulus.

Dan soal cognitive offloading, bukankah itu sebenarnya tanda kemajuan peradaban?. Manusia selalu menciptakan alat untuk mengurangi beban. Kita menciptakan kalkulator agar tidak perlu menghitung, GPS agar tidak perlu mengingat jalan, dan kini sistem cerdas agar tidak perlu terlalu lama berpikir. Mungkin puncak evolusi akademik memang bukan manusia yang semakin tajam, melainkan manusia yang semakin ringan, ringan karena sebagian besar kerja intelektualnya telah berhasil dipindahkan ke tempat lain.

Jika kemudian kemampuan membaca melemah, menulis menjadi dangkal, dan pertanyaan penelitian terdengar seperti hasil daur ulang, mungkin itu hanya nostalgia generasi lama yang sulit menerima perubahan. Setiap zaman punya standarnya sendiri. Dahulu kebijaksanaan diukur dari ketahanan berpikir, sekarang mungkin dari kecepatan merespons reviewer. Dahulu profesor adalah orang yang membuka horizon baru, sekarang cukup menjadi orang yang tidak terlambat mengunggah revisi. Bukankah adaptasi adalah bentuk kecerdasan yang paling realistis?.

Jadi benar, kita seharusnya tidak khawatir. Selama gelar tetap bertambah, pidato pengukuhan tetap berlangsung, dan institusi tetap sibuk memproduksi kebanggaan administratif, semuanya tampak baik-baik saja. Hanya saja, sesekali, di tengah tepuk tangan itu, mungkin ada pertanyaan kecil yang datang terlambat: jika semua orang berhasil menjadi profesor tanpa perlu sungguh-sungguh berpikir, lalu siapa sebenarnya yang masih menjaga ilmu pengetahuan agar tidak berubah menjadi sekadar dekorasi birokrasi?.

Minggu, 19 April 2026

Sertifikat tanah

Dulu banget, ribuan tahun lalu, sebelum ada pagar, sebelum ada sertifikat, manusia hidup santai aja. Mereka masih di fase pemburu-pengumpul, pindah-pindah ngikutin makanan. Hari ini di hutan, besok di sungai. Nggak ada yang ribut soal batas tanah, karena ya… buat apa juga? Alam dipakai bareng. Kalau ada yang tiba-tiba bilang, “ini tanah gue,” paling ditanya balik, “lah, emang lu yang bikin bumi?”

Lama-lama manusia capek juga hidup nomaden. Masuk ke masa yang dikenal sebagai Revolusi Neolitik, mereka mulai menetap dan bertani. Nah di sini mulai muncul rasa “punya”. Bukan karena serakah, tapi karena logika sederhana: kalau gue yang nanam, yang nyiram, yang nunggu panen, masa orang lain yang lewat santai terus ikut metik? Dari situ lahir rasa kepemilikan, yang ngurus, dia yang berhak. Masih sederhana, masih manusiawi.

Tapi ya namanya manusia, makin banyak orang, makin ribet urusannya. Mulai ada konflik, mulai ada yang pengen lebih. Akhirnya muncul kekuasaan, kerajaan, struktur sosial, aturan. Dalam sistem kayak feodalisme, tiba-tiba ceritanya naik level, tanah bukan lagi soal siapa yang ngurus, tapi siapa yang berkuasa. Raja bisa bilang semua tanah miliknya, rakyat cuma numpang. Jadi yang capek nanam siapa, yang “punya” siapa. Agak… ya gitu lah.

Belum selesai di situ, masuk lagi ke fase yang lebih niat, kolonialisme Eropa. Orang jauh datang ke tempat yang jelas-jelas udah ada penghuninya, tapi karena nggak ada sistem kepemilikan ala mereka, tanah itu dianggap kosong. Kebayang nggak, lagi hidup tenang, tiba-tiba ada yang datang, terus bilang, “ini belum ada yang punya ya.” Penduduk lokal cuma bisa, “lah kita ini apa… figuran?” Tapi karena yang datang bawa sistem dan kekuatan, akhirnya tanah diambil, dicatat, dijadikan kebun, tambang, duit. Dari sini tanah bener-bener jadi barang ekonomi.

Dan dizaman sekarang semuanya keliatan lebih rapi. Ada hukum, ada sertifikat, ada batas jelas. Di Indonesia bahkan diatur lewat Undang-Undang Pokok Agraria 1960. Jadi kalau sekarang orang bilang “ini tanah gue”, dia nggak cuma ngomong... ada bukti, ada pengakuan negara. Nggak bisa lagi cuma modal “gue duluan di sini ya”.

Kalau dilihat dari sudut pandang sejarah, ada satu hal yang cukup menarik. Dari dulu tanahnya tetap sama, nggak bertambah, nggak berkurang. Yang berubah justru cara manusia memahaminya. Kita membuat batas, memberi nama, lalu menyepakati bahwa sebagian itu “milik saya” dan sebagian lain “milik kamu”. Bukan karena alamnya berubah, tapi karena manusia membangun sistem, yang awalnya sederhana, lalu makin kompleks seiring waktu.

Akhirnya ya gitu… kepemilikan tanah itu nggak muncul tiba-tiba. Awalnya cuma soal bertahan hidup, lama-lama jadi kebiasaan, terus jadi aturan, lalu makin kuat karena ada yang pegang kuasa, dan sekarang dibikin resmi lewat hukum. Dari dulu sampai sekarang, yang berubah bukan tanahnya… tapi siapa yang bisa bilang, “ini punya siapa.”

---
Bisa Paham

Jumat, 17 April 2026

Hakikat Haji

Salaamun `alaikum....

Ibadah Hajji SATU MACAM saja TIDAK ADA Hajji Ifrad, Hajji Tamattu, dan Hajji Qiran

Dalam ayat 2/196 tidak disebutkan Hajji Ifrad, Hajji Tamattu, dan Hajji Qiran, karena pelaksanaan ibadah itu sama saja atau SATU MACAM SAJA.

Perbedaan cuma didapat pada waktu melakukan Hajji dan Umrah yang harus disempurnakan untuk ALLAH.

HAJJI ialah mendatangi atau menziarahi Ka’abah, 3/97, dengan segala syaratnya, sedangkan UMRAH adalah meramaikan Masjidil Haraam, 22/26 2/158 9/19, dengan ukuf, shalat, tawaf dan sa’i.

Orang yang melakukan ibadah Hajji otomatis melakukan umrah karena dalam hajji itu termasuk juga ibadah meramaikan Masjidil Haraam.

Karena itu ALLAH menyuruh orang MENYEMPURNAKAN HAJJI dan UMRAH.
Kepada setiap orang itu diwajibkan menyembelih ternak kurban.

Memang pengertian hukum yang terkandung dalam ayat 2/196 agak sulit difahami, tetapi kalau diteliti dan diuraikan, akan didapat ketentuan hukum itu sebagai berikut :

Surat Al-Baqarah (2:196)
وَأَتِمُّوا الْحَجَّ وَالْعُمْرَةَ لِلَّهِ
ۚ فَإِنْ أُحْصِرْتُمْ فَمَا اسْتَيْسَرَ مِنَ الْهَدْيِ ۖ
وَلَا تَحْلِقُوا رُءُوسَكُمْ حَتَّىٰ يَبْلُغَ الْهَدْيُ مَحِلَّهُ ۚ فَمَن
كَانَ مِنكُم مَّرِيضًا أَوْ بِهِ أَذًى مِّن رَّأْسِهِ فَفِدْيَةٌ مِّن صِيَامٍ أَوْ
صَدَقَةٍ أَوْ نُسُكٍ ۚ فَإِذَا أَمِنتُمْ فَمَن تَمَتَّعَ بِالْعُمْرَةِ إِلَى الْحَجِّ فَمَا اسْتَيْسَرَ
مِنَ الْهَدْيِ ۚ فَمَن لَّمْ يَجِدْ فَصِيَامُ ثَلَاثَةِ أَيَّامٍ فِي الْحَجِّ وَسَبْعَةٍ إِذَا رَجَعْتُمْ ۗ تِلْكَ عَشَرَةٌ
كَامِلَةٌ ۗ ذَٰلِكَ لِمَن لَّمْ يَكُنْ أَهْلُهُ حَاضِرِي الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ ۚ وَاتَّقُوا اللَّهَ وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ
Sempurnakanlah Hajji dan umrah untuk ALLAH jika kamu dalam KEADAAN SULIT,
maka hendaklah (menyembelih) yang mudah dari kurban.
Jika kamu dalam KEADAAN AMAN, maka siapa yang melengkapi dengan umrah sampai pada hajji hendaklah (menyembelih) yang mudah dari kurban.
Jangan cukur kepalamu hingga korban itu sampai pada tempat (penyembelihan) tertentu.
Siapa yang sakit atau ada gangguan di kepalamu ( hingga tidak dapat bercukur),
hendaklah berfidyah dengan berpuasa atau bersedekah atau pengabdian (lainnya).
Siapa yang tidak mendapatkan ternak (untuk dikurbankan),
hendaklah berpuasa tiga hari dalam waktu hajji itu dan tujuh hari
ketika kamu telah kembali. Itulah sepuluh hari yang sempurna.
Yang demikian ialah bagi siapa yang keluarganya tidak hadir
pada Masjidil Haraam (bukan penduduk Makkah).
Insaflah pada ALLAH dan ketahuilah bahwa ALLAH sangat pemberi balasan.

Alinea 1 menjelaskan bahwa kalau orang dalam KEADAAN SULIT mungkin karena adanya perang yang ditimbulkan kaum kafir, atau kekurangan hewan ternak, atau kesempitan waktu hingga tidak sempat meramaikan Masjidil Haraam berlama-lama, hendaklah dia menyembelih kurban yang mudah didapat. Ingatlah bahwa yang diperlukan ialah melakukan hajji atau ziarah ke Baitullah, tercantum pada ayat 3/97, dan waktunya harus dalam bulan Haraam yang empat, 2/197.

Alinea 2 menjelaskan, jika KEADAAN AMAN tiada kesulitan, tentunya ada jemaah yang sampai di Makkah SEBELUM bulan Haraam yang empat.

 Anggota jemaah ini tentulah meramaikan Masjidil Haraam atau melakukan umrah menjelang waktu Hajji datang dan kemudian melaksanakan syarat hajji secukupnya. Orang inipun hendaklah juga menyembelih ternak kurban, bersamaan tugasnya dengan orang yang tersebut pada alinea 1.

Jadi dalam ayat 2/196 TIDAK TERKANDUNG pengertian adanya GOLONGAN hajji Ifrad yang tidak wajib menyembelih kurbah, begitupun TIDAK ADA GOLONGAN Hajji Tamattu dan Hajji Qiran. 

Yang terkandung dalam ayat suci ialah golongan yang dalam SULIT tersebab keadaan dan golongan yang dalam AMAN. 

Kedua golongan ini sama WAJIB MENYEMBELIH KURBAN sama melaksanakan ibadah hajji, dan sama melaksanakan umrah atau meramaikan masjidil Haraam. Waktu melakukan umrah tidak menjadi persoalan. 

Orang boleh umroh sebelum bulan Haraam yang empat, boleh selama bulan-bulan Haraam itu, atau boleh pula sesudahnya, karena umrah itu sendiri berarti menunaikan Masjidil Haraam.

1.

S alaamun `alaikum Lihat Satu Titik Ini . Seluruh keberadaan, termasuk si Tuhan Terkandung dalam titik itu Inilah realita rekurs...